<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Musimpun Berganti</title>
	<atom:link href="http://musimberganti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://musimberganti.wordpress.com</link>
	<description>Bismillah, I can do it!</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Nov 2011 04:18:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='musimberganti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Musimpun Berganti</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://musimberganti.wordpress.com/osd.xml" title="Musimpun Berganti" />
	<atom:link rel='hub' href='http://musimberganti.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gratis lagi!</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/17/gratis-lagi/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/17/gratis-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 09:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serpihan]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musimberganti.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Bukan soal minyak tanah gratis. Tetapi saya lagi nyoba hosting dan domain gratis.  Entahlah, meskipun sempat gak selera lagi nguprek-uprek blog, ternyata masih juga gak bisa pergi dari &#8216;dunia persilatan&#8217;. Masih pengin belajar lewat menulis dan menikmati tulisan kawan2 blogger yang lain. So, kemaren, nyoba hosting di  micklemuckle.0lx.net dan domain gratis di co.cc. Ternyata oh ternyata, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=105&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan soal minyak tanah gratis. Tetapi saya lagi nyoba hosting dan domain gratis.  Entahlah, meskipun sempat gak selera lagi nguprek-uprek blog, ternyata masih juga gak bisa pergi dari &#8216;dunia persilatan&#8217;. Masih pengin belajar lewat menulis dan menikmati tulisan kawan2 blogger yang lain. So, kemaren, nyoba hosting di  <a href="http://micklemuckle.0lx.net/" target="_blank"><span class="yshortcuts"><span style="color:#003399;">micklemuckle.0lx.net</span></span></a> dan domain gratis di <a href="http://co.cc" target="_blank">co.cc</a>. Ternyata oh ternyata, meskipun <a href="http://emnoer.co.cc" target="_blank">blog baru </a>sudah aktif, tetap saja malas untuk update. Intinya, waktu banyak, tapi jiwa malas ternyata lebih banyak. Aku juga manusia&#8230; (membela diri).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/105/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/105/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=105&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/17/gratis-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ruh Dalam Huruf</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/07/ruh-dalam-huruf/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/07/ruh-dalam-huruf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 19:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Helwah]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musimberganti.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Bukan sebuah kebetulan jika al-Quran diturunkan di jazirah Arab. Bahasa Arab pun berkembang karena Islam datang pertama dengan seruan &#8220;Bacalah dengan nama Tuhanmu&#8221;. Dari sini lah tulisan arab -yang dengannya kalam Allah diturunkan- menjadi bagian tak terpisahkan dari jalan panjang khazanah Islam, khususnya di bidang seni (fann). Terlebih adanya larangan dalam Islam untuk menggambar makluk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=104&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan sebuah kebetulan jika al-Quran diturunkan di jazirah Arab. Bahasa Arab pun berkembang karena Islam datang pertama dengan seruan &#8220;Bacalah dengan nama Tuhanmu&#8221;. Dari sini lah tulisan arab -yang dengannya kalam Allah diturunkan- menjadi bagian tak terpisahkan dari jalan panjang khazanah Islam, khususnya di bidang seni <em>(fann)</em>.<em> </em>Terlebih adanya larangan dalam Islam untuk menggambar makluk hidup. Hal ini meniscayakan suatu ranah ekspresi jiwa yang haus untuk dituangkan.</p>
<p>Tulisan ini tidak mengupas tentang sejarah kaligrafi itu sendiri. Melainkan mengungkap sedikit &#8216;rahasia&#8217; yang terdapat dalam setiap rangkaian huruf Arab. Tidak banyak (untuk mengatakan tidak ada) bahasa di dunia yang mempunyai kesesuaian makna dan bentuk (tarkib) seperti yang bisa dilihat dalam bahasa Arab.<span id="more-104"></span></p>
<p>Seorang kaligrafer, ketika menuliskan ayat al-Qur&#8217;an dengan penanya, sejatinya dia sedang berada dalam &#8216;ruang lain&#8217; yang benar-benar membuat dirinya terasa menikmati setiap goresan tinta di atas kertas. Proses bentukan setiap huruf yang menjadi kalimat sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Pun ketika satu kalimat tertuang, <em>dzauq fann </em>ditambah pemahaman dia akan makna kalimat yang dia tulis, mampu memberi tahu tangan, bahwa bentukan kalimat yang dia tulis kurang sesuai dengan &#8216;situasi&#8217;.</p>
<p>Di sisi lain, beberapa kalimat tertentu menjadi maklum di antara para khattah, bahwa kata tersebut tidak mudah untuk ditulis. Di samping, bentukan kalimat tersebut jika diletakkan dalam barisan ayat al-Qur&#8217;an akan mengurangi keserasian tulisan. Kalimat <em>mushibah</em>,  akan selalu menjadi &#8216;musibah&#8217; dan bencana ketika ditulis. Dalam semua bentuk khot yang dikenal, kalimat tersebut cenderung &#8216;berat&#8217; dan tidak mudah membuatnya enak dipandang. Kalimat <em>mushibah, </em>akan tetap menjadi musibah. Begitu pula dengan kata <em>&#8216;Adzab </em>dengan huruf &#8216;ain-nya yang membuka ke atas, seolah mampu menelan dan siap menimpa mereka yang dzolim. Ada kesan &#8216;seram&#8217; dalam kalimat tersebut.</p>
<p>Lain dengan kalima <em>Jannah </em>yang terasa lembut dipendengaran, enak ditulis dalam berbagai jenis khot, serta mudah menemui keserasian ketika diletakkan dalam sebuah <em>tarkib.</em> Seperti tarkib yang ditulis khattah Sami Affandi bertuliskan &#8220;Jannatu &#8216;Adnin Mufattahatan lahumul abwaab&#8221; Sungguh Indah dan mempesona. Seolah memanggil setiap jiwa yang merindukannya untuk segera menyeru perintah tuhan-Nya, demi menggapai nikmatnya.</p>
<p>Begitu pula kalimat &#8220;Anulzimukumuuhaa..&#8221; kalimat panjang dan  melelahkan untuk ditulis. Sesuai dengan makna yang dikandungnya. Bahwa orang-orang musyik tidak mau menyambut seruan nabi-Nya. Rasa enggan dan benci membuat mereka menolak apa yang diperintahkan oleh Allah melalui seruan para rasul. Kalimat &#8220;Anulzimukumuuhaa&#8221; tidak hanya menuangkan arti lewat kata dan makna, namun bentuk tulisan dan susunan huruf yang tidak mudah, seolah menjadi penguat akan makna yang terkandung di dalamnya. Demikian, dan tidak heran jika mereka yang mengerti bahasa Arab -layaknya orang jahiliyah- begitu tercengang dan sujud ketika mendengar ayat-ayat Allah dilantunkan. <em>Hasbunallah wa ni&#8217;mal wakiil</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/104/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/104/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=104&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/07/ruh-dalam-huruf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ismailia Weekend</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/04/ismailia-weekend/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/04/ismailia-weekend/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 21:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Helwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musimberganti.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Akhir minggu ini ada yang beda. Tidak lagi menyambut mentari di ruang sempit yang terhimpit di antara tembok-tembok asrama (emang matahari terbit di kamar? hiks!). Tidak juga menyempatkan diri ke sutuh (atap gedung) untuk mencari udara segar. Karena mentari pagi ini terbit dari balik awan pagi yang tipis di atas langit kota fayed, Ismailia. Salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=100&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir minggu ini ada yang beda. Tidak lagi menyambut mentari di ruang sempit yang terhimpit di antara tembok-tembok asrama (emang matahari terbit di kamar? hiks!). Tidak juga menyempatkan diri ke sutuh (atap gedung) untuk mencari udara segar. Karena mentari pagi ini terbit dari balik awan pagi yang tipis di atas langit kota fayed, Ismailia. Salah satu propinsi dekat laut di Mesir.</p>
<p>Rihlah bersama kawan-kawan se-angkatan (kedatangan 2004) kali ini lumayan lama. Tiga hari dua malam. Kami menginap di Vila Hurriyyah, yang terletak tepat di tepi laut merah. Indah. Menikmati udara pantai yang segar ternyata lumayan merefresh fikiran. Sejenak melupakan kehidupan Kairo yang hiruk pikuk, penatnya menyambut ujian karena membolak-balik diktat kuliah. Kira-kira seperti itu lah&#8230;:) . Motto yang kami bawa, jangan sampai materi kuliah mengganggu rihlah hehehe&#8230;<span id="more-100"></span></p>
<p>Terima kasih buat kawan-kawan yang sudah menghabiskan pagi dengan bersama <em>nge-syai</em> sambil menikmati popcorn, mengisi siang dengan mancing ikan di parit kecil depan villa (meskipun nggak dapet2.. hehehe&#8230;) dan ketika malam hari sama-sama menjadi mangsa nyamuk pantai yang genit, hahaha&#8230;&#8230; jadi pengin pulang ke Kairo, yang aman dari nyamuk bro! Bagaimanapun juga, senang bisa mengisi week-end kali ini dengan kalian semua&#8230;. <em>rabbena yaftah &#8216;alaikum wa yusahhil umurakum!</em></p>
<p><a href="http://musimberganti.files.wordpress.com/2008/04/100_4651.jpg">
<a href='http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/04/ismailia-weekend/100_4651/' title='pagi di Fayed'><img width="150" height="103" src="http://musimberganti.files.wordpress.com/2008/04/100_4651.jpg?w=150&#038;h=103" class="attachment-thumbnail" alt="pagi di Fayed" title="pagi di Fayed" /></a>
<a href='http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/04/ismailia-weekend/100_4724/' title='marhalati euy...'><img width="150" height="104" src="http://musimberganti.files.wordpress.com/2008/04/100_4724.jpg?w=150&#038;h=104" class="attachment-thumbnail" alt="marhalati euy..." title="marhalati euy..." /></a>
<a href='http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/04/ismailia-weekend/100_4567/' title='narsis dikit'><img width="130" height="150" src="http://musimberganti.files.wordpress.com/2008/04/100_4567.jpg?w=130&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="narsis dikit" title="narsis dikit" /></a>
</a></p>
<p><a href="http://musimberganti.files.wordpress.com/2008/04/100_4651.jpg"><br />
</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/100/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/100/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=100&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2008/04/04/ismailia-weekend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://musimberganti.files.wordpress.com/2008/04/100_4651.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pagi di Fayed</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://musimberganti.files.wordpress.com/2008/04/100_4724.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">marhalati euy...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://musimberganti.files.wordpress.com/2008/04/100_4567.jpg?w=130" medium="image">
			<media:title type="html">narsis dikit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I am Still Alive</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2008/03/30/i-am-still-alive/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2008/03/30/i-am-still-alive/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 03:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serpihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musimberganti.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Mei yang lalu merupakan akhir dari perjalanan lumayan panjang nge-blog di hosting gratis pandela. Hampir sekitar tiga tahun sudah saya menikmati kegratisan tersebut. Dengan modal awal auracms yang saya pasang (sebelum akhirnya pindah ke worpress) setidaknya pandela sudah memberi saya banyak waktu untuk belajar. Memang setelah &#8216;tragedi&#8217; bulan lalu (weks), saya menjadi malas untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=94&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Mei yang lalu merupakan akhir dari perjalanan lumayan panjang nge-blog di hosting gratis <a href="http://www.pandela.com" title="www.pandela.com" target="_blank">pandela</a>. Hampir sekitar tiga tahun sudah saya menikmati kegratisan tersebut. Dengan modal awal <a href="http://auracms.org" target="_blank">auracms </a>yang saya pasang (sebelum akhirnya pindah ke <a href="http://wordpress.com" target="_blank">worpress</a>) setidaknya pandela sudah memberi saya banyak waktu untuk belajar.</p>
<p>Memang setelah &#8216;tragedi&#8217; bulan lalu (weks), saya menjadi malas untuk update ataupun iseng cari hosting gratis lainnya. Meskipun sempat dua kali mencoba hosting gratis, namun tetap saja kurang berselera. Entah kenapa, tiba2 selera saya kepada yang &#8216;gratis&#8217; jadi berkurang, meskipun akhirnya juga memutuskan diri untuk lanjut nge-blog di server <a href="http://wordpress.com" target="_blank">wordpress </a>langsung yang jelas2 gratis (cape dech!). <span id="more-94"></span></p>
<p><i> &#8217;Ala kulli haal,</i> I am  Still Alive. Semoga hijrah kali ini bisa <i>kaaffah </i>(ceile)<i>. </i>Meninggalkan (server) lama yang sudah mati, untuk pindah ke alamat baru. Terima kasih kepada pandela yang telah menemani hari2 ngeblog saya, meski kini tidak lagi bersama, tapi tidak lantas hilang pula saat-saat itu dari kenangan. Hari-hari yang lalu tetap ada dalam ingatan. Menjadi timbangan dan pelajaran yang tak terhingga. Dari sana saya ambil pengalaman dan pelajaran. Remember yesterday, think about tomorrow, and live today!!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/94/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/94/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=94&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2008/03/30/i-am-still-alive/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paket dari Turki!</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2008/02/09/paket-dari-turki/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2008/02/09/paket-dari-turki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaligrafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerimis.myartsonline.com/2008/02/09/paket-dari-turki/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Nur, tadi malam saya dapat telpon, kata sulthon ada paketan buat sampeyan dari Turki&#8221; demikian bunyi sms yang saya terima dari Alek Mahya, sejenak setelah bangun pagi ini. Sambil loading, saya berusaha menebak. Ada apa dengan Turki dan saya?! Whehehehe&#8230; Whaa..akhirnya setelah loading sekitar 90%, saya ingat bahwa tahun kemarin saya mengirim karya ke panitia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=92&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Nur, tadi malam saya dapat telpon, kata sulthon ada paketan buat sampeyan dari Turki&#8221; demikian bunyi sms yang saya terima dari <a href="http://masshofa.blogspot.com" target="_blank" title="alek's blog">Alek Mahya</a>, sejenak setelah bangun pagi ini. Sambil loading, saya berusaha menebak. Ada apa dengan Turki dan saya?! Whehehehe&#8230;</p>
<p>Whaa..akhirnya setelah loading sekitar 90%, saya ingat bahwa tahun kemarin saya mengirim karya ke panitia peraduan kaligrafi internasional di Turki. Dan di tahun yang sama, saya pun sudah tau pemenang-pemenangnya. Yang jelas, nama saya tidak ada dalam daftar mereka. Hanya saja, sejauh yang saya tau, semua peserta akan dikirim katalog karya pemenang dan daftar seluruh peserta sebagai ˜oleh-oleh&#8221; dan sekedar tanda terima kasih bagi seluruh partisipan. (maaf, paragraf ini banyak kata2 &#8216;saya&#8217; hehehe&#8230;)<span id="more-92"></span></p>
<p>Singkat cerita, kiriman katalog itu sebenarnya telah lama saya tunggu, hingga akhirnya lupa. Saya ingin banyak belajar dari para ˜senior&#8221; yang telah berhasil menjadi pemenang. Paling tidak, bisa mengukur kemampuan dengan studi banding kualitas tulisan ceile.. atau apa gitu lah! Setidaknya, saya mengoleksi katalog tersebut untuk bahan rujukan nantinya. Dan keinginan yang dulu sempat menjadi impian, ternyata hari ini datang. Yup, katalog telah ada di depan mata, akhirnya pucuk dicinta ulampun tiba <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Katalog yang saya terima berisi daftar lauhah (karya) para pemenang peraduan kaligrafi internasional ketujuh yang diselenggarakan oleh <a href="http://ircica.org" target="_blank" title="ircica site">Research Centre for Islamic History, Art and Culture</a> (IRCICA) yang berkedudukan di Istambul, Turki. Di mana kali ini, peraduan tersebut didekasikan untuk tokoh kaligrafi modern, Hasyim Muhammad al-Baghdady. Peraduan serupa pertama kali diselenggarakan tahun 1985 atas nama kaligrafer ternama asal Turki, Hamid al-Amidi, di bawah bimbingan dan pengawasan Prof. Akmaluddin Ihsan Aughali, sekjend OKI, yang juga Direktur Utama IRCICA saat itu.</p>
<p><img src="http://gerimis.myartsonline.com/wp-content/uploads/2008/02/100_4121.JPG" alt="my catalog" style="width:230px;" align="right" hspace="6" width="230" />Peraduan kaligrafi internasional yang diadakan tiap tiga tahun sekali ini, merupakan peraduan kaligrafi internasional pertama kali dan satu-satunya yang dikelola oleh sebuah lembaga. Dan sejak itu, peraduan kaligrafi internasional menjadi agenda tetap IRCICA, yang ketika pertama kali diadakan, lembaga tersebut baru memasuki tahun ketiga semenjak didirikan.</p>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya, peran IRCICA dalam seni kaligrafi menjadi lebih strategis, dimana lembaga ini menjadi semacam pengayom berbagai macam kegiatan yang mendukung pengembangan seni kaligrafi. Seperti pengadaan training dan seminar kaligrafi, penerbitan buku-buku karya para master kaligrafi, pengadaan pameran-pameran kaligrafi di sejumlah negara, serta pemberian ijazah kepada kaligrafer yang telah mencapai tingkat standard baku kaidah kaligrafi klasik. Selain itu, IRCICA juga berhasil membangun jaringan dan membentuk forum bagi para kaligrafer di berbagai belahan dunia. Disamping, IRCICA juga menjadi donatur dan pengarah berbagai lomba kaligrafi lokal yang diadakan di beberapa negara anggota OKI.</p>
<p>Suatu kebanggaan bahwa peraduan kaligrafi internasional semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan dari tahun ke tahun. Baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Hal itu terlihat dari jumlah negara asal peserta yang semakin bertambah. Jumlah peserta peraduan kaligrafi ketujuh kali ini bahkan mencapai tiga kali lipat jumlah peserta peraduan yang pertama. Tidak hanya itu, nilai dan jumlah hadiah yang dikeluarkan untuk para pemenang pun semakin banyak.  Hingga kemudian, peraduan kaligrafi internasional yang diadakan IRCICA ini menjadi semacam acuan dan standarisasi kemampuan serta sarana para peserta (kaligrafer) dalam mengasah bakat dan kemampuan mereka. Tidak berlebihan jika akhirnya banyak kalangan menjuki para peserta peraduan kaligrafi ini dengan sebutan â€œGenerasi IRCICAâ€.</p>
<p>Peraduan kaligrafi internasional ketujuh kali ini diikuti sebanyak 917 peserta dari 38 negara. Sedangkan karya yang terkumpul sejumlah 1717 karya terdiri dari 14 cabang kaligrafi  yang dilombakan. Meliputi; <i>Khat Tsuluts Jali, Tsulust &#8216;Adi, Naskh, Ta&#8217;liq Jali, Nasta&#8217;liq, Diwani Jali, Diwani, Kufi, Muhaqqaq, Raihani, Ijazah, Riq&#8217;ah, Maghribi, dan Ta&#8217;liq Daqiq.</i></p>
<p>Setelah mengamati dan menyeleksi semua karya yang masuk, dewan juri peraduan kaligrafi kali ini memutuskan untuk memberikan perhatian khusus kepada beberapa kaligrafer berbakat yang berasal dari negara-negara tertentu, di mana seni kaligrafi terlihat mulai berkembang. Perhatian berupa pemberian hadiah simbolik tersebut dimaksudkan untuk memberi motivasi kepada para kaligrafer setempat untuk terus mengembangkan diri serta meningkatkan kualitas kaligrafi di negaranya. Hadiah serupa diperuntukkan pula bagi beberapa kaligrafer yang mempunyai karya berkualitas namun karena beberapa sebab terpaksa tidak diluluskan seleksi. Jumlah hadiah untuk kategori ini dibagikan kepada 42 pemenang.</p>
<p>Sementara hadiah dalam bentuk uang tunai, diperuntukkan bagi 21 juara utama serta 74 juara tambahan (harapan). Hadiah tersebut dikeluarkan sebagi bentuk penghargaan atas 94 karya kaligrafi terbaik yang meliputi 14 jenis cabang, seperti yang ada di dalam katalog. Jumlah keseluruhan uang tunai yang dikeluarkan IRCICA dalam peraduan ini mencapai USD 91.000. Dibagikan kepada 119 pemenang yang berasal dari 25 negara.</p>
<p>Dalam katalog setebal 116 halaman ini, bisa kita nikmati karya-karya peserta yang berhasil menjuarai peraduan, foto pemenang, serta alamat lengkapnya. Di akhir halaman, dicantumkan pula nama seluruh peserta peraduan, lengkap dengan alamat dan tempat tinggal. Kesemuanya, ditujukan supaya antar peserta saling kenal, hingga terciptanya jaringan antar &#8216;Generasi IRCICA&#8217; di seluruh belahan dunia.</p>
<p>Dari 917 peserta yang mengikuti peraduan ini, Syiria dan Irak merupakan negara yang paling banyak pesertanya. Disusul Mesir, Turki dan negara-negara arab lain. Beberapa negara Eropa seperti Inggris dan Spanyol juga ada. Untuk Asia, terdapat peserta yang berasal dari Jepang, Malaysia dan Indonesia. Malaysia, tercatat 5 peserta. Sementara dari Indonesia sendiri terdapat ada 20 orang. Tetapi, bisa jadi jumlah ini lebih, mengingat beberapa peserta mengirimkan karyanya tidak dari negara asal, tetapi dari negara dimana mereka tinggal. Di antara 20 peserta dari Indonesia, 2 diantaranya mendapatkan hadiah simbolik dari IRCICA dari dua kategori kaligrafi yang berbeda. Saudara Isep Misbah (Banten) mendapatkan hadiah dari kategori kaligrafi diwani, sementara Saudara H. Mahmud Basri (Bekasi) dari kategori Jali Tsulust.</p>
<p>Begitulah. Kembali ke katalog&#8230; Sekarang katalog itu sudah tergeletak manis di atas meja saya. Belum puas juga rasanya menikmati karya-karya para pemenang, meskipun sudah capek membolak-balik halaman demi halaman. Melihat katalog tersebut, jadi teringat ketika seorang kawan memaksa saya untuk mengirimkan karya, seperti apapun jadinya. Dua hari menjelang deadline, barulah karya itu jadi. Lalu dia mengantar saya mengirim karya tersebut via <a href="http://dhl.com" target="_blank" title="www.dhl.com">DHL</a>. Jika ketika itu saya tidak dipaksa, katalog tersebut tidak akan sampai di tangan. Dan tidak akan pernah ada kiriman untuk saya dari Turki. However, thanks bro, terima kasih <a href="http://mubayok.blogspot.com" title="mubayok.blogspot.com" target="_blank">fi,</a> karena anda saya banyak belajar dari lomba ini!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/92/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/92/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=92&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2008/02/09/paket-dari-turki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gerimis.myartsonline.com/wp-content/uploads/2008/02/100_4121.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">my catalog</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ya, kita masih, dan aku selalu.</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2008/01/28/ya-kita-masih-dan-aku-selalu/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2008/01/28/ya-kita-masih-dan-aku-selalu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 04:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serpihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerimis.myartsonline.com/2008/01/28/ya-kita-masih-dan-aku-selalu/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saat itu datang Saat bahagia dan keberhasilan engkau rasakan Tak tau lagi, apa yang harus ku katakan&#8230; Kebanggaan pun menyeruak di lubuh hatiku, entahlah Meski kau bukan siapa-siapaku&#8230; Bahkan entah sejak kapan, kita saling sapa&#8230; Hanya&#8230; Isyarat itu harus segera menyadarkanku. Saat itu pun semakin dekat. Dimana aku takkan lagi bisa menyapamu di pagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=91&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika saat itu datang<br />
Saat bahagia dan keberhasilan engkau rasakan<br />
Tak tau lagi, apa yang harus ku katakan&#8230;<br />
Kebanggaan pun menyeruak di lubuh hatiku, entahlah<br />
Meski kau bukan siapa-siapaku&#8230;<br />
Bahkan entah sejak kapan, kita saling sapa&#8230;</p>
<p>Hanya&#8230;<br />
Isyarat itu harus segera menyadarkanku.<br />
Saat itu pun semakin dekat.<br />
Dimana aku takkan lagi bisa menyapamu di pagi hari<br />
Atau bertanya kabarmu seharian, di saat petang menjelang&#8230;<br />
Tak bisa lagi ku bercerita tentang rembulan emas di atas sana&#8230;<br />
Tentang gerimis di balik jendela kamar-kamar asrama..<br />
Kau akan segera jauh dariku&#8230;<br />
Saat itu pasti tiba&#8230;<span id="more-91"></span></p>
<p>Entah, rasanya aku tidak rela<br />
Kadang kembali egois hadir.<br />
Ingin kutahan kepergianmu.<br />
Aku mau, petang kita takkan berlalu<br />
Kumau bercerita lagi, membagi apa yang kita rasa.<br />
Lalu sama-sama kita rajut harapan.<br />
Menyiram kuncup layu yang tertunduk.<br />
Tidak hanya pasrah dengan kenyataan dan waktu,<br />
Lalu diam menyerah. Tidak.</p>
<p>Izinkan ku sapa lagi pagimu&#8230;<br />
Meski tak harus dengan ucapan,<br />
Atau barisan kata simbol yang tercipta.<br />
Aku hanya ingin pastikan.<br />
Bahwa engkau baik-baik saja.<br />
Bagaimana kabarmu hari ini?!<br />
Masihkan engkau yang dulu?!</p>
<p align="left"><em>untuk seseorang&#8230;<br />
kini aku merasa kehilangan&#8230;</em></p>
<p>1/28/2008 2:42 AM</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=91&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2008/01/28/ya-kita-masih-dan-aku-selalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Iedul Khatt al-&#8217;Arabiy ke-11</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2007/12/18/iedul-khatt-al-arabiy-ke-ii/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2007/12/18/iedul-khatt-al-arabiy-ke-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 09:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serpihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerimis.myartsonline.com/2007/12/18/iedul-khatt-al-arabiy-ke-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan Hari Raya Kaligrafi ke-11 tahun ini, diadakan di Madrasah Khot as-Sa&#8217;idiyyah, Giza, Mesir. Acara pokok dari peringatan yang digelar tanggal 16 Desember yang lalu, adalah pemberian Takrim (penghargaan) kepada 10 lulusan terbaik diplom khot, dan diplom takhossush. Serta takrim bagi beberapa tokoh yangÂ mempunyai andil besar dalam pengembangan seni kaligrafi di Mesir. Hadir dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=90&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perayaan Hari Raya Kaligrafi ke-11 tahun ini, diadakan di Madrasah Khot as-Sa&#8217;idiyyah, Giza, Mesir. Acara pokok dari peringatan yang digelar tanggal 16 Desember yang lalu, adalah pemberian <i>Takrim </i>(penghargaan) kepada 10 lulusan terbaik diplom khot, dan diplom <i>takhossush</i>. Serta <i>takrim </i>bagi beberapa tokoh yangÂ mempunyai andil besar dalam pengembangan seni kaligrafi di Mesir.</p>
<p>Hadir dalam acara ini, ketua <i>&#8216;al-Jam&#8217;iyyah al-Mashiriyyah al-&#8217;Ammah lil khattil &#8216;arabiy&#8217;,</i>Â  Mus&#8217;ad Khudair al-Bursa&#8217;idiy, para anggota Jam&#8217;iyyah, guru-guru kaligrafi dari madrasah-madrasah khot yang ada di Mesir, dan murid-murid sekolah khot, baik itu dari madrasah as-Sa&#8217;idiyyah, maupun madrasah khot lainnya.<span id="more-90"></span></p>
<p>Acara berlangsung dari pukul 19.30 ini berlangsung khidmat dan meriah hingga pukul 21.00. Acara hiburan berupa operet yang dibawakan oleh<i> thalib-thalibah</i> madrasah as-Sa&#8217;idiyyah, menambah marak acara yang dihadiri tidak kurang dari 300 hadirin ini. Meskipun cuaca dingin kurang bersahabat, namun hal itu tidak mengurangi minat para hadirin untuk tetap bertahan di <i>al-Masrah as-Sa&#8217;idiyyah</i>, gedung pertemuan yang ada di samping Madrasah, hingga akhir acara.</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/90/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/90/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=90&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2007/12/18/iedul-khatt-al-arabiy-ke-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Alexandria</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2007/12/02/oleh-oleh-dari-alexandria/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2007/12/02/oleh-oleh-dari-alexandria/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2007 21:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Helwah]]></category>
		<category><![CDATA[Kaligrafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerimis.myartsonline.com/2007/12/02/oleh-oleh-dari-alexandria/</guid>
		<description><![CDATA[Pagi hari itu agak lain. Selesai subuhan tidak lagi nerusin mimpi seperti biasa . Saya sambar celana dan kaos kusut, masuk ke kamar sebelah. Numpang nyetrika. Nunggu setrika panas, saya seduh coffe mix. Lumayan, buat mengusir keinginan nyamperin kasur. Karena kalau hal itu terjadi, akan hancur rencana hari ini&#8230; Yup. Hari ini kami ada janji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=89&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi hari itu agak lain. Selesai subuhan tidak lagi nerusin mimpi seperti biasa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Saya sambar celana dan kaos kusut, masuk ke kamar sebelah. Numpang nyetrika. Nunggu setrika panas, saya seduh coffe mix. Lumayan, buat mengusir keinginan nyamperin kasur. Karena kalau hal itu terjadi, akan hancur rencana hari ini&#8230;</p>
<p>Yup. Hari ini kami ada janji dengan seorang seniman, kaligrafer dan designer grafis dari Alexandria (Iskandariah),<a href="http://www.yousry.net" title="www.yousry.net" target="_blank"> Yousry Hassan</a>. Itu sebabnya, hari ini kami berempat (saya, Alim, <a href="http://mubayok.blogspot.com" target="_blank" title="yoyok's blog">Yoyok</a> dan Ircham) berencana berangkat jam 07.00 pagi. Selain perjalanan yang lumayan jauh, kami juga belum tau pasti rumah yang akan kami tuju. So, segala acara dan janji hari ini terpaksa kami cancel. Afwan&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Rencana berangkat jam 07.00 molor. Seperempat jam setelah itu 2 rekan datang ke kamar. Siap sedia. Sementara, saya sendiri belum mandi, hiks. Baru setengah delapan kami bertiga keluar kamar,langsung miscall satu kawan lagi. Hp-nya mati! Alamak&#8230; begitulah, setelah kesana-kemari dan diakhiri dengan session mengambil sarapan dua telur rebus di dapur, kami akhirnya menuju halte bus. Waktu hampir menunjukkan pukul delapan!<span id="more-89"></span></p>
<p><b>Kereta ato bus yach?!</b></p>
<p>Angkot jurusan Ahmad Hilmi yang kebetulan longgar mengantar kami hingga terminal yang terletak di belakang stasiun Ramsies. Hampir setengah jam di jalan, diskusi singkat berlangsung. Akankah naik kereta, atau cari bus? Setelah rapat dengar, kami sepakat naik kereta. Dengan semangat kami menuju loket. &#8220;Kereta ke Alexandria berangkat pukul sembilan pagi, harga satu tiket 30 pound,&#8221; demikian si penjaga bilang. Whaaa&#8230; mahal banget. Usut punya usut ternyata kami di loket kereta kelas dua yang lumayan bagus (bisnis kali). Kami akhirnya pindah ke loket kelas ekonomi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . Harga tiket 9.5 pound. Namun kembali diskusi kecil kami gelar. Karena ternyata kereta ekonomi baru berangkat nanti jam 11.00 nanti. Dan perjalanan menyita waktu sekitar 4 jam! Bisa-bisa kami terlalu sore sampe tempat&#8230;.</p>
<p>Dengan azas mufakat, kami putuskan balik ke loket kelas dua. Cerita selanjutnya malah lucu, karena penjaga loketnya yang menolak. Alasannya kereta 5 menit lagi mau berangkat dan tiket nggak bisa kembali. Kita terlalu mepet pesan ticket. Setelah setengah ngotot dan kami janji mau lari ke kereta, akhirnya empat tiket seharga 120 pound jatuh ke tangan juga. Seorang penjaga berteriak menyuruh kami lari, ketika kereta di jalur satu sudah siap meluncur. Baru kali ini saya lari-lari mau naik kereta. Jadi sekarang bisa membayangkan, nggak enaknya orang ketinggalan kereta!</p>
<p><b>Nice journey!</b></p>
<p>Alhamdulillah, akhirnya kami berhasil menemukan tempat duduk, tepat sebelum stasiun kelihatan menjauh. Tempat duduk kami di gerbong enam. Lumayan penuh namun kelihatan bersih dan nyaman. Bangku sengaja kami putar berhadapan, biar leluasa ngobrol dan mempersiapkan materi buat menguras ilmu-nya pak Yousry <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Tapi begitulah, bukannya ngobrol serius, malah kita saling kasih komentar hal-hal yang terlihat di jalan. Maklum, kami sama-sama lama nggak naik kereta. Pun snack yang kami beli, menambah enaknya ngobrol tanpa judul itu. Hampir dua puluh menit, kereta sudah jauh keluar kota Kairo. Terlihat kemudian hamparan kebun dan sawah yang bikin ingat rumah (wah mulai nelongso nih). Kebun jambu, jeruk, dan macam-macam tumbuhan kelihatan subur menghijau. Memang musim sedang berganti <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Musim dingin di ambang pintu. Sepanjang jalan kami lihat sawah-sawah sudah mulai digarap. Banyak kerbau, sapi, kambing dan alat2 bajak yang <i>ngangeni</i>. Indah.</p>
<p>Seorang kawan berkomentar, kalau naik kereta seperti gini enak. Selain tempat duduk lebih longgar, kita juga bisa bisa menikmati pemandangan yang jarang terlihat ketika naik bus. Kita juga bisa bernostalgia dengan suasana kampung halaman. Dalam hati, saya menduga kalau dia lagi kangen kerbau-nya hahaha&#8230; lha wong yang banyak kelihatan di luar adalah kerbau, kambing, sapi dan kawan-kawannya.</p>
<p>Saya sendiri, perjalanan itu tergantung dengan siapa kita jalan, ehm..ehm.. Jangan ke mana-mana dulu&#8230;.Hayalan pun muncul. Jika sekarang saya bersama dulur2 sekeluarga naik kereta ke Alexandria. Wuih, tentu rame dan seru! Lantas saya cerita macam2 di jalan. Tentang Mesir, Azhar, Kairo, Alexandria dan macam-macam lagi. Ya, dan tentu saya berharap perjalanan ini akan lebih lama <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Dan yang jelas, saya nggak akan bisa berhenti bercerita hehe&#8230; Untungnya, saya sadar, karena saya dapati kawan duduk saya nggak berubah, dan masih makan snack!. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Caape dech! Memang, membayangkan yang nggak-nggak bakal rugi! Tuing!  Hayalan2 itu pun saya buang jauh2. Mendingan perjalanan ini saya gunakan untuk istirahat. Maklum, semalam jam tiga baru bisa tidur.</p>
<p><b>Kesan pertama&#8230;.</b></p>
<p>Tepat setelah dua jam di perjalanan, kereta akhirnya berhenti di stasiun Sidi Gaber (Sayyid Jaabir), Alexandria. Tepat pukul 11.05 kami sudah berada di luar stasiun yang lumayan besar tersebut. Seorang kawan akhirnya menelpon Pak Yoursy. Mengabarkan bahwa kami telah sampai Alex. Sekaligus tanya rute untuk bisa ke rumah beliau. Tapi ternyata, kami disuruh menunggu sekitar 20 menit di depan stasiun, karena beliau sendiri akan langsung menjemput kami.</p>
<p>Agak lama juga menunggu, hingga muncul sedan biru muda metalik. Sosok yang berwibawa dan penampilan rapi keluar sambil memanggil ke arah kami. <i>â€œYa â€˜Aalim, taâ€™aalaâ€</i> beliau memanggil nama salah satu di antara kami, yang beliau kenal sewaktu pembukaan pameran di Saâ€™ad Zaghlul bulan yang lalu. <i>â€œAhlan wa sahlan&#8230; nawwartum Iskandariah. Tasyarrafna bi majiikum. Kaifal hall, kaifal akhbar&#8230;â€</i> dan sederet kalimat2 pembuka buat basa-basi yang kadang perlu. Setelah salaman dan memperkenalkan diri seperlunya, kami dipersilahkan masuk mobil. Stasiun Sidi Gaber pun terlihat menjauh, dan kami sudah berada di tengah hiruk pikuk kota Alexandria siang itu&#8230;.</p>
<p>Sepanjang jalan, tidak berhentinya beliau mengungkapkan rasa senang beliau atas kedatangan kami. <i>Ahlaan&#8230; marhaban&#8230; alhamdulillah&#8230; kaifal haal..</i> dan seterusnya. Beliaupun bertanya tentang studi kami. Tentang fakultas, tingkat, jurusan, dan juga tentang belajar kami di madrasah kaligrafi di Mesir. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu, suasana pun mulai cair. Obrolan di dalam kendaraan pun akhirnya semakin hangat. Ketika melewati tempat tertentu, tidak lupa beliau menerangkan nama dan asal-usulnya. Maklum, beliau asli penduduk Iskandariah. Lahir, tumbuh dan menetap di sana.</p>
<p><b>Pribadi yang <i>semanak </i>dan <i>grapyak</i>.</b></p>
<p>Sebenarnya kami merasa gak enak (sungkan) dengan Pak Yousry. Ya, karena kami tau kapasitas beliau yang sibuk di mana-mana. Tidak kepikiran bahwa beliau segitunya menghormati tamu-tamunya. Namun karena pribadinya yang semanak dan ramah. Kami seolah-olah berada di negeri sendiri.</p>
<p>Di awal perjalanan, kami lebih banyak mendengar beliau yang menerangkan nama-nama tempat dan sesekali pula memberi tahu designer beberapa gedung yang ada di sana. Dari mulai daerah Ibrahimiah, Raml, Maidan Sa&#8217;ad Zaglul, Maidan Mansyea, serta monument Al-jund al-Majhuul (Pahlawan tak dikenal) dan <a href="http://www.bibalex.org/English/index.aspx" title="Perpustakaan Alexandria" target="_blank">Perpustakaan Alexandria</a> (Bibliotheca Alexandrina), hingga akhirnya kami sampai Mantiqah Bahriy. Daerah ini mempunyai pemandangan khas yang tidak ada di tempat lain. Kapal-kapal kecil nelayan bertebaran memenuhi pinggiran pantai. Warna-warni kapal dipadu background langit kebiru-biruan melahirkan kesan yang lumayan artistik. Alami dan cantik! Belum lagi, dari sini kami juga bisa menikmati benteng Qitbay berdiri kokoh tidak jauh dari masjid. Yup Alexandria memang kota yang menawan!</p>
<p>Masih di daerah yang sama, berdiri masjid yang beberapa tahun yang lalu baru dipugar. Terlihat ornament model fathimiyah dan kaligrafi corak tsulust dan beberapa kaligrafi gaya bebas, memenuhi dinding dan atap masjid ini, Masjid Manarul Islam. Di sini, kami melepas lelah sebentar dan menunaikan sholat dzuhur dan ashar, jama&#8217; taqdim.</p>
<p>Selesai sholat, kami jalan-jalan santai di sekitar benteng Qitbay. Angin yang datang dari laut, semakin membuat dingin hawa Alexandria yang memang sudah dingin. Sepanjang jalan, banyak terlihat penjual cenderamata, wisatawan domestik maupun mancanegara, dan beberapa orang yang asyik memancing. Obrolan kami sambil jalan-jalan membuahkan pengetahuan baru tentang sejarah kaligrafi, zuhrufah, hubungan antara keduanya, serta banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan beliau sebagai designer grafis. Terkesan, tidak ada yang beliau tutup-tutupi. Apapun yang kami tanya, beliau berusaha menjelaskannya sedetail mungkin. Seolah kami sudah kenal lama dan bukan siapa-siapa lagi. Ya, beliau adalah sorang yang semanak dan grapyak. Hal itulah yang kemudian membuat kami tidak lagi merasa sungkan dan risih untuk mengorek ilmu lebih banyak&#8230;</p>
<p><b>Es krim Makrom</b></p>
<p>Jalan-jalan siang kami masih berlanjut. Keluar dari kawasan benteng, kami belok ke arah kanan. Setelah berjalan beberapa ratus meter, sampailah kami di Halaqatus Samak (tempat pelelangan ikan). Tempat ini lumayan besar dan masih lumayan ramai. Karena memang, nelayan dan pembeli melakukan transaksi jual beli ikan di sini. â€œJika ingin melihat puncak kesibukan, kita bisa datang antara subuh hingga jam delapan pagiâ€ demikian ujar Pak Yousry kepada kami.</p>
<p>Sepanjang jalan kali ini, kami banyak mendapat ilmu tentang <i>taqhir </i>kertas (proses pengolahan kertas sebelum ditulisi khot). Biasanya masing-masing kaligrafer mempunyai rahasia sendiri dalam seni ini. Seperti campuran bahan-bahan alami dengan pewarna tertentu, sehingga menghasilkan kertas yang terkesan antik. Biasanya, <i>taqhir </i>ini tidak jauh dari penggunaan putih telor dalam <i>finishing</i>-nya. Karena itu, kertas yang sudah melalui proses ini, lebih mudah ditulisi. Dan khattath pun lebih leluasa mengoreksi karya jika salah. Karena putih telor menghalangi tinta menyatu dengan kertas, di samping memberi kesan berkilau. Begitulah memang, rahasia karya seorang kaligrafer, salah satunya terletak di medianya (kertas). Jika bagus pengolahan media maka karya yang dihasilkan akan bagus pula. Di sini keterampilan dalam seni <i>taqhir </i>mengambil peran pentingnya.</p>
<p>Obrolan kami semakin seru ketika pak Yousry mengajak kami mampir makan <i>ruz bil-laban </i>campur es-krim, di sebuah warung es-krim terkenal bernama Makrom. <i>Ruz bil-laban </i>adalah sebutan bagi makanan yang terbuat dari nasi dicampur susu. Dengan pengolahan yang tepat, jadilah nasi bubur nasi bercampur susu manis yang nikmat. Menurut beberapa kawan, sesekali beli makanan ini bisa memperbaiki gizi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Tidak berlebihan memang, karena jika sudah merasakan, bisa jadi anda pun akan ketagihan. Begitupun dengan kami, apalagi kali ini, <i>ruz bil-laban </i>di meja depan yang siap disantap, dikemas dalam satu tempat dengan es-krim vanilla. Wow..wow.. hehehe. <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> ;)</p>
<p><b><i>Sowan</i> ke rumah Pak Asran Mansiy</b></p>
<p>Selesai &#8216;ngemil&#8217; di makrom, kami diantar ke rumah seorang empu kaligrafi murni Alexandria. Saya katakan demikian, karena memang beliau salah satu putra terbaik madrasah khat Iskandariah, Pak Asran Mansiy. Madrasah khat tertua di Iskandariah yang didirikan oleh khattath Muhammad Ibrahim dan diteruskan oleh saudaranya khattath Kamil Ibrahim. Bisa juga madrasah ini madrasah legendaris yang telah menelorkan khattath-khattath andalan. Termasuk Pak Asran Mansiy dan Pak Yoursy Hassan sendiri.</p>
<p>Rumah Pak Asran terletak di lantai tiga sebuah flat di gang kecil yang lumayan sulit dijangkau. Jika tidak diantar, bisa jadi kami tidak bisa menemukan flat ini. Rumah kecil dan terlalu sederhana untuk seorang khattath kenamaan seperti Pak Asran. Hanya ruang tamu kecil yang berdindingkan karya-karya beliau, ruang makan, dapur, kamar mandi dan satu kamar tidur. Berlima kami bertamu, terasa sudah sangat sempit.</p>
<p>Sekali lagi kami merasa beruntung bak mendapat durian jatuh (tapi tidak kena kepala). Keinginan ke Alexandria sebenarnya ingin bertemu Pak Yousry saja. Tidak terbersit sedikitpun untuk mengunjungi khattath atau tempat lain. Namun rupanya, beliau sudah mempunyai rencana sendiri untuk &#8216;menjamu&#8217; tamu-tamunya. Begitulah, seperti kali ini, beliau bilang ke Pak Asran, bahwa kedatangan kami jauh dari Kairo ke Alexandria, sengaja untuk silaturahmi dan &#8216;berguru&#8217; kepada Pak Asran. Kontan, sambutan super hangat dari khattath yang kini berusia 73 tahun itu kami terima. Bincang-bincang akrab pun segera berlangsung. Sekitar dua puluh menit â€“tepatnya setelah disuguh minuman- kami izin pulang. &#8220;Masih ada tempat lain yang akan kita kunjungi&#8221; demikian alasan Pak Yousry kepada tuan rumah, ketika kami pamit undur diri.</p>
<p><b>Jamuan Makan Sore di Rumah Sang Seniman</b></p>
<p>Sebenarnya, target kami selanjutnya adalah khattath Ibrahim Masry. Beliau juga kaligrafer yang lahir dari madrasah Iskandariah. Lebih istimewa lagi, beliau adalah keponakan pendiri madrasah khot Iskandariah, Muhammad Ibrahim. Usia pak Ibrahim tidak terpaut jauh dari pak Asran. Selain itu, nilai plus beliau yang lain adalah kepiawaian beliau dalam dunia seni ornament, hingga sebutan <i>muzahrif </i>(ahli ornament), identik dengan bapak satu ini. Namun terpaksa kami teruskan perjalanan, karena beliau sedang tidak di tempat. Toko kecil di sebuah gang kecil itu telah tutup. Dari luar, terlihat bekas cat yang menempel di beberapa bagian dinding toko. Meskipun agak kecewa, namun cukuplah kali ini kami mengunjungi tokonya saja. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setelah sholat ashar, kami meluncur ke arah jalan Musthafa â€˜Ibadi yang terletak di bilangan Mahram Bik. Tepatnya di sebuah imarah (gedung) bernama al-Mubarkiah. Di sinilah, kantor usaha beliau â€œArabasic Designâ€ bermarkas. Tidak jauh dari kantor, tepatnya di sebelah kanan lift di lantai yang sama, rumah beliau berada. Pertama kali, kami diajak ke kantor beliau yang ketika itu masih lumayan ramai. Kami pun berkenalan dengan beberapa staff yang sedang masuk kerja. Di antara mereka bekerja sebagai web designer, web programmer, dan designer grafis. Lumayan lama juga kami ngobrol dengan beberapa staff, sambil melihat karya-karya kaligrafi yang terpampang rapih di dinding kantor.</p>
<p>Selain karya Pak Yousry Hassan, beberapa karya yang terpampang di dinding adalah kaligrafi murni corak <i>jali tsulust </i>dengan tinta hitam di atas kertas karton bertuliskan â€œalmulku lillah wahdahâ€. Melihat dari <i>tauqi&#8217;</i> (tanda tangan) yang ada, kami tahu bahwa itu adalah karya kaligrafer Iskandariah, Ahmad Saqar. Kaligrafer ternama sekaligus ahli kimia. Karya-karya beliau yang lain, sempat saya nikmati di pameran kaligrafi tahunan Opera House tahun 2005 yang lalu.</p>
<p>Puas melihat-lihat lukisan, kami dipersilahkan masuk ruang pribadi Pak Yoursy. Kami disuguhi video dokumentasi pembuatan karya-karya beliau yang memakai media air brush di atas kertas karton. Sekitar seperempat jam, kami dipanggil ke luar. <i>â€œSa urikum asy-ya`an ukhraa&#8230; taâ€™ala&#8230;â€ </i>(saya akan tunjukkan sesuatu yang lain, mari ikut saya). Dan benar, kami diajak ke rumah beliau.</p>
<p>Rumah itu terkesan luas dan teduh <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Tata ruang yang dibuat seleluasa mungkin membuat kami merasa nyaman. Beberapa lukisan kaligrafi kufi khas â€˜madzhabâ€™ pak Yousry bertengger di beberapa bagian tembok, dengan tetap menjaga keserasian tempat. Tidak lama setelah kami duduk, seorang gadis kecil berlari keluar dari dalam rumah. Minah, putri pak Yousry yang berumur sekitar 4 tahun menghampiri kami dengan muka ceria. Kami pun lantas cepat akrab dengan anak kecil ini. Dari gerak-geriknya menunjukkan bahwa Minah adalah anak ceria dan cerdas. Dan begitulah, tidak lama kami pun bergantian menggodanya hingga berlarian keliling ruang depan. Sementara dari dalam, terdengar suara anak laki-laki sedang menangis. Putra pak Yousry pertama, Abdurrahman rupanya sedang ngambek. Sedang putri beliau terakhir bernama Salma, yang masih berusia dua bulan, sedang bersama Ibunya di kamar&#8230;.</p>
<p>Begitu masuk, kami dipersilahkan cuci tangan dan langsung menuju ke meja makan. Ayam goreng, kuah daging, sayur buncis dicampur tomat serta beberapa lalapan sayur segar siap kami santap. Waktu terus beranjak, maghrib sebentar lagi menjelang&#8230;</p>
<p>Acara makan tidak luput dari <i>sharing </i>ilmu. Kuliah singkat dan diskusi ringan tiba-tiba mulai seiring dengan dimulainya jamuan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Sesekali ayam di tangan menjadi selingan. Topik-topik seputar politik kini menjadi tema menarik. Apalagi hal ini â€“meskipun agak jauh- masih ada hubungan dengan perkembangan seni kaligrafi khususnya, dan peradaban masyarakat setempat pada umumnya. Sesekali saja, beliau berkomentar tentang peran pemerintah. Topik selanjutnya, banyak membicarakan keadaan umat Islam di tanah air, Indonesia tercinta. Meskipun kadang membosankan, memang topik ini selalu menjadi obrolan hangat bagi mereka yang baru kenal dengan orang Indonesia. Ya, sebisanya pertanyaan beliau kita jawab dengan jujur. Apa adanya&#8230;.</p>
<p>Selesai makan kami disuguhi jus jambu lalu disusul syai (teh) panas ~o). Ketika itu, adzan maghrib berkumandang. Sambil menghabiskan teh, kami membicarakan salah satu karya beliau yang dihasilkan dari seni <i>air brush</i>. Karya ini merupakan konstruksi ulang dari sebuah karya klasik yang telah berusia 800 tahun! Aslinya adalah sebuah karya pahat dengan ornament yang dekat kepada corak kristen, namun bertuliskan ayat al-Qur&#8217;an, surat at-Taubah ayat 111 <i>â€œInnallaha isytaraa minal mu&#8217;miniina anfusahum wa amwaalahum, bianna lahumul jannahâ€</i>. Karya ini beliau tulis ulang dengan media cat memakai air-brush di atas kertas putih. Hanya saja, kesalahan dari segi imlaâ€™ yang ada dalam karya tua tersebut, memaksa beliau untuk melakukan permbenahan. â€œKarena bagaimana pun kesalahan penulisan al-Qurâ€™an tidak bisa dibiarkanâ€. Demikian alasan beliau. Begitu pun corak ornament yang dekat kepada ornament kristen, sedikit beliau tambah dan kurangi. Sebuah pembenahan kongkrit yang mudah-mudahan akan terus berlanjut&#8230;</p>
<p><b>Madrasah Kaligrafi Mahmud Zaki Salim</b></p>
<p>Selepas nge-syai, kami sholat magrib berjamaah, dilanjutkan sholat isyaâ€™ jamak taqdim. Setelah menyerahkan sekeping DVD berisi beberapa rekaman video plus file kaligrafi lainnya, kami diajak beliau kembali turun dari apartement. â€œJika nanti ada waktu, kita kembali ke kantor lagi. Akan saya copykan beberapa file lain yang belum sempat tercopy. Sekarang, kita akan berkunjung ke Madrasah Khot Mahmud Zaki Salimâ€ demikian ujar pak Yousry sejenak sebelum kami keluar rumah.</p>
<p>Madrasah Khot Mahmud Zaki Salim baru berdiri tiga tahun yang lalu. Pak Yousry sendiri termasuk pemrakarsa madrasah ini. Wajar, di umurnya yang masih belia, madrasah ini terlihat banyak sekali peminatnya. Sesuai dengan umurnya pula, kelas tertinggi di madrasah ini adalah kelas tiga. Sementara kelas empat -sebagai kelas tertinggi- di jenjang diplom khot belum ada. Apalagi kelas diplom <i>takhossush, </i>yang merupakan jenjang lanjutan diplom.</p>
<p>Lokal madrasah Khot &#8220;Mahmud Zaki Salim&#8221; menempati gedung yang setiap pagi dipakai untuk Madrasah Tsanawi Banat (setingkat SMA, khusus putri). Gedung tersebut masih terlihat bagus dan lumayan layak. Kondisi ini agak jauh jika kami bandingkan dengan kondisi fisik Madrasah kami di Kairo, Madrasah khot &#8220;Kholil Agha&#8221;. Madrasah yang tiap paginya dipakai untuk SMA khusus putra ini, terbilang sudah tua. Beberapa bagiannya sudah sangat sering di<i>tarmim </i>(dipugar) untuk tetap menjaga kondisinya biar layak pakai. Kira-kira demikian.</p>
<p>Kembali ke Madrasah &#8220;Mahmud Zaki Salim&#8221;, lagi-lagi sambutan hangat kami terima dari kepala sekolah setempat dan para guru. Kami sampai di lokasi sekitar jam 18.30. ketika itu proses belajar mengajar masih berlangsung. Padahal di Kairo, madrasah kami biasanya bubar ketika jam 18.00. Ternyata memang madrasah Mahmud Zaki Salim mulai ketika jam 17.00, sementara di Kairo, kami masuk kelas jam 16.00.</p>
<p>Begitulah, kami akhirnya diperkenalkan oleh Pak Yousry kepada kepala sekolah para pengajar yang ada. Satu persatu kelas pun kami masuki. Di kelas satu, kami melihat papan tulis penuh denga tulisan huruf ba&#8217; yang disambung dengan beberapa huruf awal hijaiyyah, lengkap dengan <i>mizan nuqtah </i>(ukuran huruf dengan besar titik) yang lumayan bagus. Rupanya memang madrasah ini masih baru mulai pengajaran beberapa minggu yang lalu. &#8220;Tidak seperti di Kairo, kita tidak bisa memulai pengajaran ketika Ramadhan, karena padatnya kegiatan para siswa dan dikarenakan sikon ada&#8221; demikian lanjut salah seorang guru yang kami tanya sejak kapan dimulai pengajaran untuk tahun ajaran ini. Murid-murid yang hadir lumayan banyak. Baik itu putra maupun putri <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Mereka pun terlihat antusias (karena melihat kami mungkin, hehehe&#8230;.). Jika sekilas melihat umur, mereka rata-rata adalah mahasiswa-mahasiswi Perguruan Tinggi yang ada di sekitar daerah situ.</p>
<p>Selanjutnya, kami masuk kelas dua. Seperti seorang pejabat yang sedang mengadakan sidak saja, kami sempat membuat situasi kelas berubah (maksudnya dari <i>khusyu&#8217; </i>nulis menjadi gak konsentrasi gitu hehe&#8230;). Mungkin karena kami orang asing yang jarang mereka lihat di sekolah mereka. Yang jelas badan kami yang rata-rata kecil di banding mereka, mungkin mengundang pertanyaan. <i>Min gama&#8217;ah dul, wa fi eh, humma gaiyin?!..</i> (siapa mereka ini, dan untuk apa datang ke sini?) mungkin begitulah pertanyaan di hati mereka, weleh&#8230; ge&#8217;er nih <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Hampir sama dengan kelas satu, materi kelas dua juga khot tsuluts. Mungkin karena jadualnya dibuat seperti itu. Hanya saja, tulisan di papan tulis sudah berbentuk <i>tarkiibaat</i> (susunan) huruf-huruf dari ayat al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Selanjutnya, kelas terakhir yang kami masuki adalah kelas tiga. Pertama kami masuk kelas ini, kami dikenalkan dengan Bu Guru yang mengajar <i>zahrafah </i>(ornament). Tepatnya Bu Rania. (<i>afwan</i>, kalau nama Ibu ini saya hafal, sementara Pak Guru di dua kelas sebelumnya tidak ada yang saya ingat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Yup, pelajaran kelas tiga kali ini adalah <i>zahrafah</i>. Wajah-wajah yang ada pun terlihat beda dari dua kelas sebelumnya. Jika yang tadi terlihat wajah-wajah segar dan semangat, maka di kelas ini, yang mendominasi adalah wajah-wajah tua, tapi juga bersemangat!. Di bangku tengah paling depan, saya lihat bapak-bapak yang sudah berambut putih (untuk tidak mengatakan kakek2). Dengan telaten-nya beliau menggambar <i>bur&#8217;um </i>(bentuk pentolan di tengah bunga atau ranting ornament) dan juga <i>rubath</i> (garis yang menghubungkan dua ranting ornament yang berdekatan). Sementara di pojok kelas, terlihat dua orang &#8216;tua&#8217; juga sedang ngobrol akrab. Salah satu-nya adalah mantan pegawai bank yang (katanya) sudah dinon-aktifkan.</p>
<p>Seperti di dua kelas sebelumnya, kami diminta oleh Pak Yousry untuk mengenalkan diri kepada segenap warga kelas. Memang beliau benar-benar punya skenario khusus bagi kami. Begitu masuk kelas, pelajaran langsung kacau. Bu guru pun minggir. Dan kelas diambil kendali oleh Pak Yousry untuk sementara waktu. Dengan bahasa yang enak, seperti ngobrol dengan kawan sendiri, Pak Yousry menjelaskan bahwa kami yang dari jauh (dari Indonesia) datang ke Mesir untuk belajar kaligrafi di Kairo. Tepatnya di Madrasah Kholil Agha. Selain itu â€“dengan kalimat hiperbolis- beliau memuji ilmu agama kami, dikarenakan kuliah kami di al-Azhar. Bahkan salah satu di antara kami (om bayok) sudah berhasil menyelesaikan strata satu-nya di fakultas Ushuluddin jurusan Akidah dan Filsafat. Begitu&#8230;</p>
<p>Sekali lagi, beliau memanfaatkan waktu kali ini untuk memberi motivasi kepada kami (tamunya) maupun kawan-kawan di Madrasah. Beliau pun menceritakan bahwa perjalanan Kairo-Alexandria bukan perjalanan singkat. Intinya jauh serta butuh biaya dan waktu. Namun demi ilmu, seorang <i>wafidin</i> (pelajar dari luar Mesir) tidak menghiraukan itu semua. Ya, seolah-olah kami benar-benar orang yang haus ilmu dan mempunyai keinginan yang sangat tinggi untuk belajar dan mendalami kaligrafi (memang iya sih, tapi kan nggak segitunya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p>Setelah hampir 20 menit kami di kelas, seorang kawan mesir membawakan empat botol minuman 7-up. Karena menghormati tuan rumah, kami yang sebenarnya tidak terlalu haus, menghabiskan minuman botol tersebut. Sambil menghabiskan minuman, beliau memperkenalkan kepada kami beberapa murid yang ada di kelas tiga. Pak Yousry juga berkomentar bahwa dua tahun lagi, murid-murid di kelas ini akan menjadi guru dan pengajar kaligrafi di sekolah yang sama. Kontan, disambut oleh senyuman dan kata-kata <i>&#8220;ya rabb&#8230;&#8221;</i></p>
<p>Semakin malam, semakin hangat kebersamaan kami di sekolah ini. Seolah-olah madrasah ini seperti madrasah kami juga. Para guru pun kelihatan antusias menjawab bebepa pertanyaan yang kami lontarkan. Entah lah, mungkin karena hoby dan kecintaan kita yang sama akan seni kaligrafi, seolah-olah kita pun sudah akrab sejak lama. Dan hatipun terasa berat untuk beranjak keluar gerbang madrasah, ketika Pak Yousry mengajak kami untuk segera pulang.</p>
<p>Satu corak yang kami rasakan di madrasah ini, yaitu pengajaran khot <i>Diwaniy</i>. Khot <i>Diwaniy </i>di madrasah Mahmud Zaki Salim, dan mungkin juga di madrasah Iskandariah yang lain, melestarikan corak <i>Diwaniy Turki</i>. Sementara madrasah kami di Kairo, mengajarkan <i>Diwaniy Ghazlany </i>(Mesir). Juga semangat belajar murid-murid di madrasah ini, lebih tinggi jika dibandingkan dengan madrasah kami di Kairo. Namun satu yang membuat kami bangga, jika dilihat dari kualitas pengajar dan guru yang ada, kami yakin bahwa madrasah kami, masih berada di atas madrasah2 lainnyaâ€¦. (ujung2nya narsis pisan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  )</p>
<p><b>Pameran Kaligrafi di <i>Qashr at-Tadzawwuq</i></b></p>
<p>Usai silaturahmi dari Madrasah Mahmud Zaki Salim, mobil yang kami tumpangi melaju ke arah Sidi Gaber. Tepatnya ke sebuah gedung yang terdapat hall besar bernama <i>Qasr at-Tadzawwuq</i>. Jika dilihat dari fungsinya â€“sebagai tempat pameran seni- mungkin tempat ini bisa disamakan dengan <i>Markaz el-Jazira</i> dan <i>Saqiyah el-Sawiy</i> yang ada di Zamalek, atau Markaz <i>Tal&#8217;at Harb</i> di Sayyidah Nafisah.Segera kami ke lantai tiga, yang ketika itu sedang ada pameran kaligrafi dan beberapa karya seni lain lain. Seperti ukiran batu dan pahatan kayu. Di ruangan yang lumayan luas ini, kami melihat pameran kaligrafi yang bercorak ragam. Gado-gado. Jika ditebak, mungkin akan mengesankan hasil karya beberapa orang kaligrafer. Namun ternyata, semua karya kaligrafi yang dipajang, baik itu dengan media kayu, kulit, plastik, kertas, kain tenun, hingga paduan khot dengan seni <i>fusaifisak </i>adalah buah karya seorang kaligrafer. Ya, seorang dan tidak lebih. Dia adalah <i>Fannan </i>Sa&#8217;id Muhammad &#8216;Abdul Qadir. Kelahiran Iskandariah tahun 1945. Bachelor Fakultas Perdagangan, pernah belajar seni lukis bebas di London, serta diplom madrasah kaligrafi dengan nilai kelulusan terbaik se-Mesir di tahun angkatannya.</p>
<p>Secara jujur saya katakan bahwa beliau seniman hebat serta menguasai banyak media dalam berekspresi. Jarang saya temui seniman atau kaligrafer yang mau mendalami semua media dan berlanjut dengan eksperiment yang membuahkan karya &#8216;layak pameran&#8217;. Dari sini mungkin kelebihan beliau bisa kita sampaikan. Namun di sisi lain, beliau kurang terlihat fokus pada seni kaligrafi itu sendiri. Jika lebih cermat membandingkan karya beliau yang ada, saya rasa kita akan sepakat bahwa khot kufi-lah yang &#8216;lumayan&#8217; sejalan dengan qaidah taqlidiyyah yang ada selama ini. Itu pun jika kita tidak membahas secara detail tentang warna dan pola garis serta kerapihan dalam finishing karya. Lebih lagi, jika kita lihat corak diwani, naskhi, tluluts dan farisi. Bisa jadi, rasa percaya diri pun muncul. Jika bapak satu ini bisa membuat karya yang kayak begini, kenapa saya tidak? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Tetapi bagaimana pun juga, pengalaman dan perjalanan hidup beliau lah yang sebenarnya sulit untuk disamai. Hal itu yang kemudian membuahkan sebuah filsafat di balik setiap karya. karenanya, karya apapun yang telah ditelorkan oleh beliau sangat layak untuk mendapatkan apresiasi. Setidaknya, kami sudah memberikan hal itu, di awal kunjungan kami ke tempat ini. <i>Qasr at-Tadzawwuq.</i></p>
<p>Di samping pameran kaligrafi tunggal, ada juga pameran seni pahat dan ukir. Beberapa karya yang ada adalah ukiran Lafdzul Jalalah di batu, dan beberapa pahatan lain di atas kayu. Kesemua batu-batu dan kayu yang sudah dirubah menjadi susunan huruf-huruf Arab atau ayat al-Qur&#8217;an merupakan karya seorang seniman, Abdul Wadud. Meskipun dilihat dari usianya yang sudah senja, tetapi semangat beliau dalam berkarya rupanya menjadi daya tarik hingga malam itu, salah satu stasiun TV meminta waktu untuk wawancara.</p>
<p><b><i>Balilah</i> &#8220;Syaikh Wafiq&#8221;</b></p>
<p>Selesai mengambil foto dengan beberapa seniman dan mendokumentasikan karya-karya kaligrafi-nya Pak Sa&#8217;id, kami mohon diri. Kami kira waktu sudah terlalu malam. Ketika itu, tepat pukul 20.20 kami keluar dari <i>Qashr Tadzawwuq</i>. Inginnya kami langsung izin untuk pulang, takut ketinggalan kereta lagi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> , sekalian mumpung dekat dengan stasiun, karena kita masih di daerah Sidi Gaber. Kami sudah berusaha basa-basi dengan ucapan terima kasih dan nyerempet-nyerempet ingin pulang gitu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> , tetapi rupanya Pak Yousry-nya sengaja gak paham kali hehehe&#8230; Malah kita di ajak memutar ke arah Hayy al-Bahr, dekat dengan Hayy Qadimah (kampung lama) yang berada di pesisir. Kemudian mobil kami parkir tepat di depan sebuah rumah makan, &#8220;Syaikh Wafiq&#8221;, demikian tulisan di plang depan rumah makan terlihat jelas!</p>
<p>Rumah makan tersebut tidak begitu besar, tetapi sangat ramai. Dari luar kelihatan sangat penuh, bahkan mungkin harus ngantri untuk dapat tempat duduk. Masih di dalam mobil, Pak Yousry setengah berteriak kepada seseorang yang sengaja menunggu pelanggan di luar. Dan tidak lama, beliau pun bercakap akrab dengan orang tersebut. Kelihatannya, tempat ini memang sudah langganan tetap Pak Yousry. Tidak beberapa lama kemudian, seseorang lantas membawa 5 kotak plastik makanan dan 5 gelas susu hangat ke mobil.</p>
<p>Kami sendiri masih aneh dengan makanan yang sudah di tangan. Jujur saja, ini kali pertama kami makan makanan jenis ini. Jangankan namanya, lha wong bentuknya saja nggak pernah lihat. Paling-paling di kairo makan <i>tho&#8217;miyyah</i> atau sekali-sekali <i>togin </i>(makanan &#8216;murah&#8217; meriah di Mesir). Pak Yousry lantas memberi tahu, kalau makanan itu namanya <i>Balilah</i>, dan susu hangat tadi adalah kuah yang dituang untuk memudahkan kita makan. <i>Balilah </i>adalah makanan yang secara singkat rasanya manis. Ya, bahkan terlalu manis. Komposisinya saya kira juga terkesan gado-gado. Bahan utamanya adalah tepung gandum, lalu diberi campuran biji-bijian di atasnya. Seperti kismis, kacang-kacangan dan entah apa lagi. Satu porsi bagi kami terlalu banyak, apalagi jika terlalu manis malah bikin eneg. Tapi bagaimanapun, kita berusaha untuk menikmatinya&#8230;.</p>
<p>Syaikh Wafiq dan <i>Balilah </i>mungkin dua nama yang sudah akrab di telinga orang Iskandariah. Sambil terus makan, Pak Yoursy kembali bercerita tentang rumah makan ini. Beliau menjelaskan bahwa &#8220;Syaikh Wafiq&#8221; dulu berupa warung kecil yang tidak terkenal. Namun karena kegigihan dan perjuangan, sekarang hampir tidak ada orang Iskandariah yang tidak mengenalnya. Dari cerita beliau tentang asal muasal, pendiri pertama dan penerus bisnis rumah makan ini, kelihatannya beliau cukup kenal baik dengan pemilik rumah makan tersebut. Dan ujung-ujungnya, beliau memang &#8216;mengaku&#8217; langganan dan selalu datang ke warung ini jika ada waktu. Atau jika ada tamu spesial yang datang ke Alex.</p>
<p>Beliau kemudian menyebut beberapa nama &#8216;besar&#8217; yang juga pernah beliau ajak <i>m-Balila </i>di &#8220;Syaikh Wafiq&#8221; ini. Sebut saja, Pak Tamimi. Staff <a href="http://www.ircica.org/" target="_blank" title="www.ircica.org">IRCICA</a>, Turki pun diajak ke sini ketika &#8216;main&#8217; ke rumah beliau. Dan mudah-mudahan, kami pun bagi beliau juga tamu spesia yang setingkat pak Tamimi&#8230; weks Ge Er&#8230;..:D</p>
<p>Yang jelas, kami tambah sungkan dengan beliau satu ini <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Ya, bagi saya, satu pelajaran yang bisa saya ambil dari Pak Yousry ketika makan Balilah malam ini. Beliau selalu tidak pernah menganggap remeh hal-hal kecil. Dan menganggap bahwa segala sesuatu meskipun itu remeh, sebagai hal penting!</p>
<p><b>Kursus kilat menjelang pulang</b></p>
<p>Selesai &#8216;ngemil berat&#8217; di Syaikh Wafiq, kami kira akan segera di antar ke stasiun atau terminal. Rupanya kami salah, karena mobil malah menjauh dari daerah Sidi Gaber. Kira-kira sepuluh menit di jalan, kembali kami sampai di Mahram Bik, kembali lagi ke kantor beliau, &#8220;Arabasic Design&#8221;. Di kantor, hanya tinggal satu orang yang mungkin giliran jaga. Sampai di dalam kami sejenak berdiskusi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.15. Selain pulang kemalaman, kami melihat Pak Yousry juga sudah sangat capek. Akhirnya kami terus terang minta izin, dan sudah terlalu banyak kami menyusahkan beliau. Namun kami masih ditahan sejenak. Kami diminta sekitar setengah jam untuk masuk ke ruang beliau. &#8220;Setengah jam saja, saya minta waktu kalian. Akan saya perlihatkan bagaimana proses design sampul buku, setelah itu nanti saya antar ke terminal, gimana?&#8221; Demikian ungkap beliau. Tentu saja, kami tidak bisa menolak. Bagaimanapun juga, waktu setengah jam sangat berharga bagi kami untuk bisa belajar langsung dari beliau&#8230;</p>
<p>Kursi ruangan kami susun sedemikian rupa. Sehingga kami bisa melihat beliau di depan komputer MAC-nya yang double monitor. Setelah meminta kepada staff-nya untuk membuatkan minuman untuk kami, beliau lantas bercerita tentang proses design cover buku, terutama proses pemilihan warna serta sentuhan akhir di photoshop CS-2. Meskipun capek, namun beliau masih saja semangat dalam menerangkan setiap langkah dan membuka contoh-contoh design. Baik yang masih mentah maupun yang sudah jadi. Di samping menerangkan design cover, beliau juga memutarkan video seminar kaligrafi tentang seni <i><a href="http://www.islamonline.net/arabic/arts/2003/08/article11.shtml" target="_blank" title="islamonline">Ibro</a></i>, di laptop HP-nya.</p>
<p>Begitulah, rupanya beliau ingin malam itu kita pulang ke Kairo tidak dengan &#8216;tangan kosong&#8217;. Waktu yang singkat benar-benar beliau manfaatkan untuk memberi kita apa yang beliau punya.Tentang design cover, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak yang sudah beliau hasilkan. Dalam satu hari, rata-rata delapan hingga sepuluh design yang beliau selesaikan. Kesibukan itu juga yang akhirnya membuat beliau tidak sempat untuk mengumpulkan semua hasil design-nya dalam sebuah katalog. Tentang partner dalam membuat cover, beliau menyebut beberapa khattath. Salah satunya adalah Pak Hammadah, khottoth Kairo yang juga guru kami di Madrasah Kholil Agha. Juga Pak Musthafa &#8216;Amari, seorang khattath yang sering menulis judul di cover buku. Namun karena kesibukan yang ada, pak Musthafa kini tidak bisa bergabung lagi.</p>
<p>Beralih ke seni <i>Ibro</i>, Pak Yousry merekomendasikan kami untuk belajar langsung kepada seorang guru kami, Pak Ahmad Faris. Menurut beliau, untuk seni <i>Ibro</i>, Pak Faris cukup kompeten. Sementara untuk <i>Taqhir </i>kertas, Pak Yousry menyarankan kami untuk menemui <a href="http://mosadkhodeir.com/" target="_blank" title="www.mosadkhodeir.com">Pak Khudair</a>. Pak Khudari (Mus&#8217;ad Khudair al-Bursa&#8217;idi) adalah khattath Mesir asal Port Said yang kini tinggal di &#8216;Abidin. Beliau mempunyai kios kaligrafi dan memasang pemeran tetap-nya di belakan Qism Gamaliyyah, daerah Husain. Selain ketua dan pendiri Persatuan Kaligrafer Mesir (al-Jam&#8217;iyyah al-Mashriyyah al-&#8217;Ammah lil Khattil &#8216;Arabiy) Pak Khudair juga anggota dewan juri tetap, peraduan kaligrafi Internasional yang diadakan oleh<a href="http://www.ircica.org" target="_blank" title="www.ircica.org"> IRCICA</a>, sebuah lembaga penelitian dan pengembangan seni dan literatur Islam yang berada di Istambul, Turki.</p>
<p>Setelah mencopy DVD-kan video seminar, kumpulan kaligrafi-kaligrafi, contoh-contoh hasil seni Ibro, dan beberapa file penting lain yang sekiranya bermanfaat, kami pun minta izin pamit. Waktu lah yang akhirnya memaksa kami untuk segera pulang ke Kairo. Setelah mengucapkan terima kasih dan menolak halus tawaran menginap, kami akhirnya kami pun di antar beliau menjauhi daerah Mahram Bik&#8230;.</p>
<p>Di tangan kami, selain 2 keping DVD, keterangan2 beliau dan obrolan kami yang sempat terekam, juga puluhan eksemplar buku katalog pameran kaligrafi menjadi oleh-oleh&#8230;.</p>
<p><b>Mutasyakkir awi-awi ya ustadzna&#8230;.</b></p>
<p>&gt;Pukul 22.30-an kami di antara ke terminal Iskandariah. Di tengah jalan, tidak henti kami berterima kasih atas sambutan dan ilmu yang sudah beliau tularkan. Pak Yousry sendiri merasa kurang puas dengan apa yang telah beliau berikan. Hari ini, lanjut beliau, masih terlalu sedikit yang bisa beliau tunjukkan kepada kami. Salah satunya, kami belum sempat diantar beliau mengunjungi beberapa tempat hiburan di Alexandria. Beliau ingin lain kali kunjungan seperti ini terulang, dan ingin mengajak kami jalan ke Muntazah, atau tempat lain wisata lainnya. Yang jelas, susah kami ungkapkan dengan apa kami harus berterima kasih.</p>
<p>Bus East Delta jurusan Iskandariah-Kairo sebentar lagi berangkat. Menunggu jam, 23.00 Pak Yousry masih sempat memberi &#8216;wasiat&#8217; tentang kaligrafi. Benar-benar pribadi yang menarik dan kesempatan sangat langka, hari ini kami bisa full bersama beliau. Kembali rasa terima kasih kami ucapkan ketika kami bersalaman, terima kasih yang sangat dalam kami ucapkan. Saya bilang ke beliau bahwa hari ini, satu hari di Iskandariah, bagi kami rasanya lebih berharga dari pada setengah tahun di Kairo. Beliau melanjutkan dengan mengutip ayat <i>&#8220;wayauman &#8216;ida rabbika kaalfi sanatin mimma ta&#8217;uddun&#8230;.&#8221;</i></p>
<p>Seorang kawan lain menyampaikan harapan, akan bisa mengunjungi beliau lagi untuk kedua, ketiga dan kesekian kalinya. Beliau pun dengan senang hati menunggu kunjungan kami di waktu yang akan datang. Tidak lupa, kami titip salam ke putra-putri beliau di rumah. Kami do&#8217;akan semoga beliau sekeluarga diberi kelancaran dan kesuksesan, serta dibalas oleh Allah dengan lebih banyak dari apa yang telah beliu berikan kepada kami hari ini. Beliau pun membalas dan kembali mendokan kami supaya sukses dalam menuntut ilmu&#8230;. sebelum akhirnya, beliau kembali ke mobil dan hilang di telan malam.</p>
<p><b>Kairo, kami pulang&#8230;.!</b></p>
<p>Pukul 23.00 tepat kami masuk bus. Dengan tiket seharga 23 pound bus East Delta mengantar kami pulang ke Kairo. Perjalanan sekitar tiga jam. Karena capek yang sangat, kami pun tidak lagi mengobrol berat. Hanya kesan-kesan pribadi yang sempat terlontar, sebelum akhirnya sepi. Saya lihat, rupanya mata-mata kawan di samping sudah mulai mengecil dan terpejam. Weks! Haruskah saya tidur juga? Tidak, saya akan tetap menikmati perjalanan ini sampai akhir cerita&#8230;:) Maksudnya akan tetap terjaga hingga bus berhenti di terminal Tahrir nanti. Tapi ternyata tidak semudah itu, karena setelah itu, saya juga tidak tau apa yang terjadi. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Akhirnya saya sadar waktu bus kami melintasi depan Giza Zoo, mengisyaratkan bahwa Kairo sudah dekat. Waktu menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Ketika melintasi Nil, memasuki Kairo, tidak sengaja saya lihat prakiraan cuaca di perempatan jalan. Di luar rupanya lumayan dingin. 18 derajat!. Dan -Alhamdulillah- akhirnya kami kembali menapakkan kaki di Kairo sekitar pukul 02.20.</p>
<p>Dari terminal Tahrir, kami cari taksi ke asrama Buus, Abbasiah. Jam tiga kurang seperempat kami masuk gerbang asrama. Kembali syukur kami panjatkan. Betapa berharganya hari ini, perjalanan yang bagi kami sarat dengan ilmu. Ilmu yang semoga bisa bemanfaat bagi kami dan bagi kepada kawan-kawan lain&#8230; Alhamdulillah.</p>
<p><b>Bermula dari kekaguman.</b></p>
<p>Kunjungan ke Alexandria kali bisa jadi agenda yang sama sekali tidak kami duga. Saya sendiri mengenal nama beliau baru tahun 2005 yang lalu. ketika itu, saya beberapa kawan melihat pameran kaligrafi tahunan yang diselenggarakan di Opera House akhir Desember 2005. Di mana, tiga karya beliau saat itu kami anggap sebagai simbol pameran dan â€˜karya andalanâ€™ di antara karya 11 kaligrafer lainnya.</p>
<p>Selain itu, nama beliau yang tertuang dalam tauqi (tanda tangan) sering saya jumpai di sampul-sampul buku, kaset, maupun iklan-iklan.Kesan yang ada ketika itu, beliau adalah seorang kaligrafer (khattath) seniman, dan designer grafis yang brilian, kaya ide serta mempunyai kreatifitas tinggi. Keinginan untuk ketemu orangnya secara langsung pun mungkin akan sulit. Mengingat kesibukan beliau (seperti yang tertulis di biodata) adalah direktur utama sebuah badan usaha yang bergerak di bidang design grafis â€œArabasic Designâ€ Alexandria. Karya-karya beliau tersebar di musium-musim timur tengah. Belum lagi kesibukan sebagai tutor dan pembicara dalam seminar-seminar seni dan kaligrafi yang sering diadakan baik dalam skala nasional maupun Internasional.</p>
<p>Selain itu, beliau juga anggota Jam&#8217;iyyah Mashriyyah &#8216;Ammah lil khattil &#8216;Arabiy, Jam&#8217;iyyah Muhammad ibrahim lil khattil &#8216;arabiy, serta anggota Jam&#8217;iyyah Mashriyyah lil Funuun at Tasykiliyyah wa Istikhdamat Grafik.</p>
<p>Sedangkan dilihat dari background pendidikan. Beliau adalah orang yang mempunyai basic kuat dalam bidang seni dan kaligrafi. Beliau lulusan terbaik se-Alexandria diploma seni jurusan zuhrufah (ornament) dan advertising, tahun 1989. Tahun 1991 kembali beliau lulus dengan nilai terbaik se-Alexandria dalam jurusan yang sama di program lanjutan. Selanjutnya, pada tahun 1995 beliau menyelesaikan bachelor bidang pengajaran seni dan tarbiyah bidang zuhrufah dan advertising dengan predikat summa cumlaude, dari Universitas Helwan, Kairo.</p>
<p>Berangkat dari kekaguman akan karya-karya yang beliau tuangkan, serta background pendidikan yang memang berangkat dari bidang seni dan kaligrafi, keinginan saya pribadi ingin ketemu dan menimba ilmu kepada Pak Yousry semakin kuat. Tentunya, akan sangat senang bila dapat rahasia-rahasia yang mungkin tidak pernah saya dapati selama ini.</p>
<p><b>Pucuk dicinta ulam pun tiba</b></p>
<p>Akhirnya kesempatan pun datang dengan bantuan-Nya. Tepatnya tanggal 22 Oktober 2007 yang lalu, beberapa kawan mengunjungi pembukaan pameran kaligrafi yang diadakan di markas Sa&#8217;ad Zaglul ats-Tsaqafy yang berada di museum Baitul Ummah, dekat daerah Tahrir. Sayangnya, saya sendiri karena ada suatu hal, tidak bisa datang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . Memang, kesempatan terbesar untuk ketemu para kaligrafer dan seniman adalah saat pembukaan pameran-pameran seperti ini. Maka sayang, jika melewatkan pembukaan pameran!</p>
<p>Ketika itu, Pak Yousry melihat rombongan kawan-kawan Indonesia sedang menikmati karya-karya yang ada. Beliau lantas menyapa dan memperkenalkan diri. Kesempatan untuk pedekate dan bertanya kepada beliau pun terbuka. Karena pertanyaan kami seputar cara pembuatan karya, beliau menawarkan untuk mencopy DVD-kan rekaman video pembuatan karya beliau yang ada di laptop. Sayangnya, kami tidak ada persiapan untuk itu. Namun demikian, pertemuan itu cukup bagi kami untuk bisa mengenal beliau lebih jauh. Dan yang lebih penting, beliau mengenal bahwa di sana ada mahasiswa Indonesia yang ingin belajar darinya.</p>
<p>Dari pertemuan ini, setidaknya kami bisa menghubungi Pak Yoursy lebih mudah. Hingga akhirnya kami bertemu kembali pada pembukaan Ma&#8217;rodh Kaligrafi di Opera House pada tanggal 01 November yang lalu. Pada hari itulah, kawan kami -Pak Alim Gema- mengungkapkan keinginan kami untuk berkunjung ke Alexandria. Rupanya, keinginan tersebut disambut dengan antusias dan akhirnya, hari itu, satu hari penuh kami belajar banyak dari Pak Yousry.</p>
<p><b>Dari Mesir Untuk Indonesia Tercinta.</b></p>
<p>Jika melihat kenyataan akhir-akhir ini, Mesir termasuk ladang subur bagi perkembangan seni kaligrafi. Setidaknya, para jawara dan juara lomba kaligrafi Internasional pun banyak yang berasal dari Mesir. Hal itu menunjukkan bahwa tradisi belajar kaligrafi murni <i>(taqlidi) </i>masih diutamakan. Meskipun demikian, terlihat seni ini bisa bergabung dengan seni rupa, grafis, maupun media modern lain, tanpa harus kehilangan kemurniannya. Sebuah fenomena dan corak kaligrafi yang mungkin tidak mudah kita temukan di tanah air. Di mana, kaligrafi kontemporer lebih cenderung kepada sebuah tradisi pembebasan kaidah murni dan terkesan memberontak.</p>
<p>Setidaknya, dengan berkunjung ke Alexandria kali ini, kami menyerap sesuatu yang kelak bisa kami bawa pulang. Bukan hanya pulang ke Kairo, namun pulang ke bumi pertiwi. Tentunya, kami belum puas dengan apa yang sudah kami dapat hari itu. Masih ingin meng-explore lebih jauh dan lebih banyak, karena masih banyak tokoh dan seniman <i>(fannaan)</i> kaligrafi lain yang belum sempat kami kunjungi. Sekali lagi, mengunjungi Alexandria kali ini semoga menjadi awal langkah kami, untuk mengambil lebih banyak dari Mesir. Ya, dari Mesir, untuk Indonesia <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Why not?!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/89/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/89/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=89&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2007/12/02/oleh-oleh-dari-alexandria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mother how are you today</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2007/11/27/mother-how-are-you-today/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2007/11/27/mother-how-are-you-today/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Nov 2007 17:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Helwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerimis.myartsonline.com/2007/11/27/mother-how-are-you-today/</guid>
		<description><![CDATA[Chorus Mother, how are you today? Here is a note from your daughter. With me everything is ok. Mother, how are you today? Mother, don&#8217;t worry, I&#8217;m fine. Promise to see you this summer. This time there will be no delay. Mother, how are you today? Verse I found the man of my dreams. Next [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=88&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>      Chorus </i><br />
Mother, how are you today?<br />
Here is a note from your daughter.<br />
With me everything is ok.<br />
Mother, how are you today?</p>
<p>Mother, don&#8217;t worry, I&#8217;m fine.<br />
Promise to see you this summer.<br />
This time there will be no delay.<br />
Mother, how are you today?</p>
<p><i>Verse </i><br />
I found the man of my dreams.<br />
Next time you will get to know him.<br />
Many things happened while I was away.<br />
Mother, how are you today?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/88/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/88/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=88&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2007/11/27/mother-how-are-you-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akankah kembali terbuka?</title>
		<link>http://musimberganti.wordpress.com/2007/11/05/akankah-kembali-terbuka/</link>
		<comments>http://musimberganti.wordpress.com/2007/11/05/akankah-kembali-terbuka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 16:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serpihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerimis.myartsonline.com/2007/11/05/akankah-kembali-terbuka/</guid>
		<description><![CDATA[Kacau, khawatir, rasa bersalah atau entah apalagi yang melingkupi detik-detikku saat ini. Ketika angin tidak lagi menyapa daun-daun basah di awal cahaya. Dan cahaya pagi yang seharusnya hangat, ternyata semakin kubenci. Ya, karena satu hari lagi akan berlalu, dengan membawa rasa yang sama seperti kemarin. Ketika kutemukan pintu ituÂ masih terkunci. Padahal baru kemarin, pintu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=86&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kacau, khawatir, rasa bersalah atau entah apalagi yang melingkupi detik-detikku saat ini. Ketika angin tidak lagi menyapa daun-daun basah di awal cahaya. Dan cahaya pagi yang seharusnya hangat, ternyata semakin kubenci. Ya, karena satu hari lagi akan berlalu, dengan membawa rasa yang sama seperti kemarin. Ketika kutemukan pintu ituÂ masih terkunci.</p>
<p>Padahal baru kemarin, pintu itu terbuka. Ruangan pendar dibalik sekat itu mulai bisa kuintip. Mulai kucoba tuk pahami segala hal yang perlu kuketahui. Sebuah kehormatan bagiku mendapat izin untuk menengoknya. Meski baru sekali aku jenguk, ruangan itu menjanjikan kesejukan jiwa yang dahaga. Terasa ada sesuatu yang berbinar di pelosok hatiku yang dalam. Mungkinkah suatu saat aku berteduh di dalamnya?<span id="more-86"></span></p>
<p>Waktu berlalu, hampir tiga jam aku di ruangan ini. Benar-benar aku terpesona. Aku percaya, dan berani untuk jujur bahwa aku nyaman di sini. Entahlah, kenapa lantas aku duduk lama dan bercerita panjang. Aku hanya ingin pastikan, bahwa aku ingin kembali merasakan kesejukannya. Nanti. Aku hanya ingin membagi ceritaku kepada dinding, kursi, meja dan apa saja yang ada di sini. Mereka begitu mengerti, sabar dan menanggapi segala aduanku. Mengurangi beban dan mampu membawakan untukku semangat baru. Inilah yang membuatku selalu merindukannya. Merindukan ruangan teduh dan berbagi bersamanya.</p>
<p>Kian waktu keyakinan itu bertambah tebal. Meskipun masa baru mengizinkanku untuk bertandang ke sebuah ruangan, yang belum bisa kujumpai tuan rumahnya. Namun aku tau, bahwa ruangan yang sejuk hanya datang jika pemiliknya suka kesejukan. Ruangan yang nyaman akan dibuat oleh mereka yang suka memberi kenyamanan. Lantas kenapa aku terlalu sibuk memikirkan seperti apa pemiliknya? Bagiku cukuplah dengan menengok ruangan ini dan cukuplah itu memberiku sebuah keyakinan.</p>
<p>Siang beranjak, waktu pun habis. Aku harus pergi dari tempat mempesona ini. Aku pulang dengan membawa semangat baru, harapan baru, dan kubawa pula janji baru. Sebuah isyarat mengizinkanku untuk kembali bisa mampir dan bercerita seperti kali ini. Ah, aku senang sekaligus menyesal. Senang karena nanti bisa bercerita, berbagi, dan mendapatkan sesuatu yang mungkin di sana keberuntunganku. Menyesal karena tadi aku banyak omong, banyak cerita, banyak mendominasi kata-kata. Kenapa aku tidak membiarkan ruangan itu bercerita banyak kepadaku. Bercerita tentang hidup, tantangan, atau cita-cita. Bahkan nasehat pun tak sempat kupinta. Ya, ternyata aku belum bisa menjadi seorang pendengar yang baik. Aku masih kalah!</p>
<p>Bulan syawwal hampir berlalu. Entah berapa kali aku mencoba menjenguk ruangan tadi. Apalagi setelah beberapa pesan kusampaikan. Hampir tiap hari aku datang dan berharap pintu itu terbuka. NamunÂ setiap kali aku kesan, aku hanya menjumpai pintu yang tertutup. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa ruangan itu tak lagi membuka diri untukku. Kenapa tidak pula pesan balik yang kuterima. Apa aku telah melakukan kesalahan hingga izin berkunjungku dicabut. Apakah ruangan sejuk itu sedang dirundung masalah? Ah, rasanya tidak ada sesuatu pun yang bisa lepas dari masalah.Â Lantas kenapa? Apa pemiliknya sengaja menjauhkannya dariku? Ataukah ruangan itu kini sudah berpenghuni? Atau&#8230; ah, lagi-lagi dugaan itu hanya akan membuatku banyak berprasangka.</p>
<p>Bagaimanapun, meski kini aku sendiri tidak menemukan jawaban yang pasti, namun aku tetap coba untuk bertahan. Bertahan untuk sabar menunggu waktu yang aku pun tak tahu kapan datangnya. Aku tidak mengerti. Kenapa sejauh ini aku tulis cerita, namun sesuatu yang tidak kumau justru menyapa. Dulu aku menginginkan ending yang mengundang senyum bangga dan bahagia. Entah mengapa, aku jadi yakin ini bukanlah ending itu. Seandainya aku tahu di mana kunci ruangan itu berada, tentu aku akan ambil dan kembali kunikmati ketenangannya. Kembali kan kuambil semangat tuk teruskan perjalanan yang lelah ini.Â Namun jika aku telah berbuat salah, mengerjakan sesuatu yang kurang berkenan, kurang etika dalam bertamu, aku harap masih terbuka jalan untuk memperbaikinya. Memperbaiki diri untuk bisa kembali menjadi orang yang beruntung, berteduh di ruangan mulia tadi.</p>
<p>Semuanya kutulis hanya untuk meyakinkan bahwa masih ada tempat bagiku di sana. Meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukanlah ending dari semuanya. Ah, seandainya waktu mengizinkan, pasti kutemui pemilik ruangan itu. Untuk mengatakan, apa yang tidak sanggup kuungkap lewat tulisan panjang ini. Dan aku, masih berharap pintu itu kan terbuka kembali. Untukku tertunya! Weks! Ngomong apa lagi sih? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/musimberganti.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/musimberganti.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/musimberganti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/musimberganti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/musimberganti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/musimberganti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/musimberganti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/musimberganti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/musimberganti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/musimberganti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/musimberganti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/musimberganti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/musimberganti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/musimberganti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/musimberganti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/musimberganti.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=musimberganti.wordpress.com&amp;blog=730167&amp;post=86&amp;subd=musimberganti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://musimberganti.wordpress.com/2007/11/05/akankah-kembali-terbuka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/425f29cd875049db853f7fd5eba16551?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">noer</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
