Musimpun Berganti

Ruh Dalam Huruf

Posted by: menur on: April 7, 2008

Bukan sebuah kebetulan jika al-Quran diturunkan di jazirah Arab. Bahasa Arab pun berkembang karena Islam datang pertama dengan seruan “Bacalah dengan nama Tuhanmu”. Dari sini lah tulisan arab -yang dengannya kalam Allah diturunkan- menjadi bagian tak terpisahkan dari jalan panjang khazanah Islam, khususnya di bidang seni (fann). Terlebih adanya larangan dalam Islam untuk menggambar makluk hidup. Hal ini meniscayakan suatu ranah ekspresi jiwa yang haus untuk dituangkan.

Tulisan ini tidak mengupas tentang sejarah kaligrafi itu sendiri. Melainkan mengungkap sedikit ‘rahasia’ yang terdapat dalam setiap rangkaian huruf Arab. Tidak banyak (untuk mengatakan tidak ada) bahasa di dunia yang mempunyai kesesuaian makna dan bentuk (tarkib) seperti yang bisa dilihat dalam bahasa Arab.

Seorang kaligrafer, ketika menuliskan ayat al-Qur’an dengan penanya, sejatinya dia sedang berada dalam ‘ruang lain’ yang benar-benar membuat dirinya terasa menikmati setiap goresan tinta di atas kertas. Proses bentukan setiap huruf yang menjadi kalimat sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Pun ketika satu kalimat tertuang, dzauq fann ditambah pemahaman dia akan makna kalimat yang dia tulis, mampu memberi tahu tangan, bahwa bentukan kalimat yang dia tulis kurang sesuai dengan ’situasi’.

Di sisi lain, beberapa kalimat tertentu menjadi maklum di antara para khattah, bahwa kata tersebut tidak mudah untuk ditulis. Di samping, bentukan kalimat tersebut jika diletakkan dalam barisan ayat al-Qur’an akan mengurangi keserasian tulisan. Kalimat mushibah, akan selalu menjadi ‘musibah’ dan bencana ketika ditulis. Dalam semua bentuk khot yang dikenal, kalimat tersebut cenderung ‘berat’ dan tidak mudah membuatnya enak dipandang. Kalimat mushibah, akan tetap menjadi musibah. Begitu pula dengan kata ‘Adzab dengan huruf ‘ain-nya yang membuka ke atas, seolah mampu menelan dan siap menimpa mereka yang dzolim. Ada kesan ’seram’ dalam kalimat tersebut.

Lain dengan kalima Jannah yang terasa lembut dipendengaran, enak ditulis dalam berbagai jenis khot, serta mudah menemui keserasian ketika diletakkan dalam sebuah tarkib. Seperti tarkib yang ditulis khattah Sami Affandi bertuliskan “Jannatu ‘Adnin Mufattahatan lahumul abwaab” Sungguh Indah dan mempesona. Seolah memanggil setiap jiwa yang merindukannya untuk segera menyeru perintah tuhan-Nya, demi menggapai nikmatnya.

Begitu pula kalimat “Anulzimukumuuhaa..” kalimat panjang dan melelahkan untuk ditulis. Sesuai dengan makna yang dikandungnya. Bahwa orang-orang musyik tidak mau menyambut seruan nabi-Nya. Rasa enggan dan benci membuat mereka menolak apa yang diperintahkan oleh Allah melalui seruan para rasul. Kalimat “Anulzimukumuuhaa” tidak hanya menuangkan arti lewat kata dan makna, namun bentuk tulisan dan susunan huruf yang tidak mudah, seolah menjadi penguat akan makna yang terkandung di dalamnya. Demikian, dan tidak heran jika mereka yang mengerti bahasa Arab -layaknya orang jahiliyah- begitu tercengang dan sujud ketika mendengar ayat-ayat Allah dilantunkan. Hasbunallah wa ni’mal wakiil

Tags:

2 Responses to "Ruh Dalam Huruf"

Ooo ngeten nggeh.. luar biasa!

[garuk2 kepala mencoba memahami] :)

Tulisan menarik. Saya suka sekali.
Patut dibaca berulang-ulang dan di simpan.

Leave a Reply

a