Posted by: menur on: September 20, 2007
Empat Ramadhan 1428. Malam merayap naik, tidak ada yang unik. Bintang di sini masih belum bertambah. Terlalu sedikit dibanding bintang di langit desaku. Sepi, suara anginpun tidak hadir kali ini. Aku lihat, bayangan itu duduk sendiri di pojok kamar, menatap agenda kecil. Lantas dibukanya agenda, mencoretkan kata hati. Menulis apa yang mengalir dari pena yang digenggamnya.
“MAAF!” Tulisnya besar. “Maaf, karena aku terlalu berani menerawang suatu masa yang masih gelap, masa yang belum teraba. Masa yang tidak jelas datangnya. Masa yang masih belum ada jembatan untuk sampai ke sana. Hingga kadang aku tinggalkan hari ini. Hari nyata yang memberikan arti bagi hidupku. Aku bangun istana indah dalam bayang hayalan, berhiaskan bunga-bunga indah, cinta-cinta suci dan cita-cita sejati yang ingin kumiliki suatu saat nanti”.
Jari tangannya sejenak berhenti menulis, jarum jam bergeser pelan, dan malam masih sepi. Sejurus kemudian “Aku berharap waktu cepat berlalu. Bayangan menjadi kenyataan, keinginan dan impian hari segera kunikmati. Aku sadar, jalan yang kutempuh begitu mudah. Belum kurasakan terjalan-terjalan menuju puncak tangga. Belum ada pahit yang datang menyapa. Belum kulewati liku-liku licin penuh jebakan. Namun entah kenapa, aku tetap berani meyakinkan diri, bahwa istana hayalan ini bukan hanya mimpi!
“MAAF!” Kembali dia goreskan kata itu. “Maaf karena aku banyak memakan perasaan. Banyak makan hati. Maaf, telah menyita waktu, mengganggu saat-saat berhargamu. Aku begitu kerdil, kecil dan lemah. Aku minta maaf jika sering kuhadirkan bayangmu pada langit-langit kamarku. Maaf, karena tanpa izinmu, kusemayamkan gambar semu untuk selalu bisa kutatap. Maaf, karena terlalu lancang menjadikanmu tokoh utama dalam cerita hayalanku. Aku berharap segera bisa menyudahi kekonyolan ini. Namun selalu, aku tak mampu….”
Alam masih sepi, sunyi. Sejenak dia berpikir. Pena di tangan diam, belum lagi menggores emosi jiwa. Terlihat dia bimbang, selanjutnya “MAAF!, karena meski sudah jauh aku menulis skenario, namun belum mampu membuat ending dari ceritaku sendiri. Aku tidak bisa bermain cantik. Jauh dari kesan professional. Aku lugu, lucu, tepatnya dungu. Jika tidak begitu, aku bukalah aku”.
“Ah…, kenapa terlalu bebas aku menafsirkan isyarat-isyarat yang kau berikan, kenapa terlalu ceroboh meletakkan arti sebuah rangkaian kata-kata biasa. Seolah-olah ‘kami’ adalah penghuni istana mimpi yang aku bangun. Bahkan kata-kata tanpa makna pun aku reka supaya mewakili emosi kita yang juga kupaksa sama”.
Berhenti sejenak, dia tarik nafas berat, pelan. “Maaf, aku sering lupa. Bahkan hampir tak kuingat lagi etika yang kau singgung, teguran halus yang kau isyaratkan, juga peringatan yang telah kau berikan. Aku benar-benar malu. Aku lemah. MAAF!”
“Membosankan? Ya, karena hanya kata MAAF yang kini kupunya. Dan hanya itu yang kini aku pinta. Setelah aku pinta waktu dan pemahaman. Aku meminta untuk memaklumi, dan seabrek permintaan lainnya. Maka pintaku kali ini hanya satu, MAAF!. Mudah-mudahan kau masih menyimpan dan menyisakannya untukku”.
Pena ditangannya diam. Lalu dia beralih ke jarum jam. Meyakinkan bahwa malam hitam sebentar lagi berganti cerahnya pagi. “Oh ya, pagiku sebentar lagi datang, mentari yang ramah akan menyapa bumi. Aku izin dulu. Tuk segera berpacu dengan waktu. Kembali bergelut dengan hari-hari, yang akan terus kunikmati dan berusaha kusyukuri. Apapun yang terjadi. Selanjutnya terima kasih telah membawaku ke sini. Semoga hari-harimu selalu menjadi hari terbaik. Hari-hari yang selalu mendapat curahan kasih sayang dan limpahan rahmat-Nya. Ya rabb…”
Agenda ditutup. Lalu dia berdiri. Ditatap lalu disimpannya buku kecil itu, dekat tempat tidurnya. Seolah tak ingin kehilangan rekaman detik-detik hidup yang dia yakini begitu berharga. Dan sejenak setelah subuh ditunaikan, dia menyapa alamnya yang baru. Kembali membuat malam dalam bayangan semu. Menciptakan bintang untuk dijadikan kawan, untuk kembali meraih pena dan menulis kata-kata dalam agenda kecilnya. Berusaha menemukan ending seperti yang diidamkan, dan menulis cerita indah untuk hari esok yang dia yakini masih miliknya.
Matahari meninggi, cahayanya menembus jendela kamar. Tanah cokelat semakin terlihat. Namun tempat ini, masih saja sepi… Heeleh, oopo lho!
Abbasea, 16/09/07
seperti malam yang menyambut pagi, tak akan usai walau terik mentari membakar bumi
copy paste ama om bayok. Jangan ending… kayak lagunya Letto itu lho.. yang bunyinya gini (kalo ga salah) tetap semangat..dan teguhkan hati..sampai nanti..sampai mati..hehe..:d
ya rabb lah. jadi tetap semangat ya?!. matursuwun, dah ngingetin kalo… I can do it! [-o<
:):):)>-
terusin donk noer ceritanya…..pengen tau endingnya nie:)
maunya nggantung aja lah nein… biar waktu yang akhirnya menjawab.. weks!
katanya….mo dilanjutkan??ditunggu lho… :d:d:)>-
aku teringat kata2 hatimu (al-ach emnoer) yang tertelor dari sela bibirmu. “apa dayaku untuk meminta, tak malukah aku dengan pinta, sedang apa yang kuberi? apa yang kujalankan? pantaskah!!! (tafsir pribadi). heee kira2 ini yang kutangkap dalam wejanganmu di kamar terpanjang seantero Darussalam (gerbong), padahal ku masih berumur 2 bulan kala itu, tapi masih terngiang hingga kini. tertanda engkau mempunyai kedalaman hati, kebaikan budi hasil dari renungan aplikatif. semoga lakumu yang santun melo cermin hati dan fikiranmu yang konstruktif. amiiiin.:)>-
September 24, 2007 at 9:44 pm
wah, saya juga MAAF kalau komentar
>- gmana pak dhe, ending nya? wah, jangan ending lah..jadi nggak enak gitu seolah udah usai. gimana kalu episode II? lha wong sinetron tersanjung aja sampai 7 atau berapa itu, masa kalah ama tersanjung..hwhwhwhwh.. :-\”